CeritaIbu.com
Update Parenting
Inspirasi

Feminisme Membuka Mataku pada Praktik Sunat Perempuan di Kampung

Dulu, aku menganggap feminisme sebagai barang asing yang datang dari kota. Namun, perjalanan pemahamanku berubah total setelah aku menyadari bahwa feminisme justru membantuku melihat ketidakadilan yang selama ini tersembunyi di balik tradisi. Kini, sebagai lelaki kampung, aku ingin berbagi bagaimana feminisme membuka mataku terhadap praktik sunat perempuan.

Fadila Utami
Fadila Utami

Fadila Utami

31 Juli 2026 17:08:00 3 menit baca 30 dibaca
Bagikan:
Feminisme Membuka Mataku pada Praktik Sunat Perempuan di Kampung

Ringkasan Artikel

AI
  • Seorang lelaki kampung berbagi bagaimana feminisme membuka matanya terhadap ketidakadilan sunat perempuan dan mengajak mempertanyakan tradisi.

*Ringkasan dibuat dengan bantuan AI

Sebagai lelaki yang tumbuh di kampung, istilah feminisme terasa seperti barang impor. Di lingkunganku, kata itu sering dikaitkan dengan hal-hal negatif: merusak moral, melawan laki-laki, atau bahkan menentang agama. Aku sendiri dulu ikut-ikutan meragukannya. Bagaimana tidak, semua orang di sekitarku memandang feminisme sebagai musuh budaya. Namun, semua berubah saat aku diajak terlibat dalam diskusi tentang pencegahan sunat perempuan oleh sebuah yayasan. Dari situlah aku mulai memahami bahwa feminisme bukan tentang membenci laki-laki, melainkan tentang membuka mata terhadap ketidakadilan yang dialami perempuan.

Memaknai Feminisme dengan Cara Baru

Feminisme, ternyata, bukan ideologi yang rumit. Ia adalah cara berpikir yang membantuku mempertanyakan hal-hal yang selama ini dianggap wajar. Mengapa perempuan selalu harus menjaga kehormatan keluarga? Mengapa tubuh mereka diatur sejak lahir? Pertanyaan-pertanyaan ini mengantarkanku pada realitas pahit tentang sunat perempuan.

Di kampungku, sunat perempuan sering dianggap sebagai tradisi yang harus dijalankan. Banyak yang melakukannya dengan niat baik, menganggapnya sebagai kewajiban agama atau cara menyempurnakan anak perempuan. Namun, ketika aku melihat lebih dalam, aku mulai bertanya-tanya: mengapa bayi perempuan harus ditandai tubuhnya sebelum ia bisa memahami apa pun? Mengapa beban moral diletakkan di pundaknya sejak dini?

Tradisi yang Perlu Dipertanyakan

Sunat perempuan sering dibungkus dengan alasan kebersihan, kesalehan, atau kehormatan. Tapi, mengapa sunat laki-laki tidak pernah dikaitkan dengan hal-hal tersebut? Mengapa tubuh perempuan selalu dianggap perlu dikendalikan? Aku ingat seorang kiai feminis, Husein Muhammad, pernah bilang bahwa sunat perempuan adalah tradisi yang diskriminatif, terutama karena tidak ada perintah agama yang jelas mewajibkannya.

Kritik terhadap tradisi bukan berarti membenci budaya. Justru, budaya yang sehat adalah budaya yang berani memeriksa dirinya sendiri. Jika kita terus mempertahankan praktik yang melukai hanya karena sudah turun-temurun, kita tidak sedang melestarikan budaya, melainkan melanggengkan ketidakadilan.

Pertanyaan yang Sering Dihindari

Saat aku mulai berbicara tentang hal ini, banyak yang bertanya, "Bagaimana dengan agama?" Pertanyaan ini sering menghentikan diskusi sebelum dimulai. Orang yang kritis langsung dicap feminis yang anti-agama. Padahal, pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah praktik ini benar-benar baik untuk anak perempuan? Apakah ini membawa kebaikan atau justru menyakiti?

Feminisme, seperti kacamata baca, membantuku melihat hal-hal yang selama ini tersembunyi. Dengan kacamata itu, aku menyadari bahwa sunat perempuan bukan hanya soal adat istiadat, tapi juga soal kontrol terhadap seksualitas perempuan. Ini bukan isu sepele. Ini soal hak asasi manusia.

Tubuh Perempuan adalah Milik Mereka Sendiri

Aku terperangah ketika menyadari bahwa ibu, saudara perempuan, keponakan, dan kelak anak perempuanku mungkin mengalami hal ini. Seburuk itukah mereka, sampai tubuhnya harus dikendalikan sejak bayi? Padahal, tubuh perempuan bukan milik negara, adat, atau masyarakat. Tubuh mereka adalah milik mereka sendiri.

Kita sering meminta perempuan menjaga kehormatan keluarga, tapi jarang bertanya mengapa permintaan itu harus dipenuhi dengan menyunat tubuhnya. Kita perlu berhenti dan berpikir ulang. Apakah kita benar-benar memuliakan perempuan, atau justru merendahkan mereka?

Cinta Budaya dengan Cara yang Lebih Dewasa

Aku tidak mengajak orang kampung untuk meninggalkan budaya. Sebaliknya, aku ingin mengajak kita mencintai budaya dengan cara yang lebih dewasa. Kampung adalah tempat persemaian nilai dan kearifan. Namun, kita harus berani mempertanyakan praktik-praktik yang tidak lagi relevan atau bahkan merugikan. Dengan begitu, kita bisa menjaga budaya tanpa harus mengorbankan hak-hak perempuan.

Perjalanan pemahamanku tentang feminisme mungkin dimulai dari keraguan, tapi kini aku yakin: feminisme adalah alat untuk menciptakan keadilan. Dan keadilan itu harus dimulai dari rumah kita sendiri, dari cara kita memperlakukan anak-anak perempuan kita.

Artikel ini membantu? Bagikan:
Fadila Utami

Tentang Penulis

Fadila Utami

Fadila Utami

Lihat semua artikel

Dapatkan Panduan Parenting Terbaru

Terima pilihan artikel parenting, kehamilan, kesehatan keluarga, resep, dan cerita ibu langsung ke email Anda.

Berita Terkait

Lihat Semua

Pilihan Editor

Lihat Semua