CeritaIbu.com
Update Parenting
Inspirasi

Perempuan-perempuan di Balik Meja Reparasi yang Kerap Terlewat

Di balik tumpukan barang elektronik yang menunggu perbaikan, ada sosok perempuan yang tangannya cekatan namun sering tak terlihat. Mereka bukan sekadar penjaga toko, melainkan pilar penting dalam usaha reparasi yang dijalankan bersama suami. Sayangnya, pengakuan atas keahlian mereka masih begitu minim.

Fadila Utami
Fadila Utami

Fadila Utami

07 Agustus 2026 11:16:00 4 menit baca 28 dibaca
Bagikan:
Perempuan-perempuan di Balik Meja Reparasi yang Kerap Terlewat

Ringkasan Artikel

AI
  • Kisah inspiratif perempuan di balik usaha reparasi yang kerap tidak terlihat, menyoroti peran penting dan potensi besar yang mereka miliki.

*Ringkasan dibuat dengan bantuan AI

Siang itu, suasana di sebuah toko reparasi alat rumah tangga di Celukan Bawang, Gerokgak, Bali, cukup ramai. Berbagai barang elektronik berserakan, menunggu giliran untuk diperbaiki. Di balik konter, seorang perempuan bernama Nur (33) berdiri sambil menggendong anaknya yang masih balita. Ketika ditanya mengenai usaha reparasi yang dijalaninya, ia sempat menjawab singkat, "Wah, kurang tahu saya, Mba. Saya di sini hanya menjaga toko kalau suami sedang pergi ambil pesanan."

Namun, ketika obrolan berlanjut ke kesehariannya, cerita Nur perlahan terbuka. Ternyata, perannya tidak sesederhana itu. Ia justru sangat memahami proses reparasi dan aktif melayani pelanggan. Bahkan, untuk perbaikan kipas angin, ia punya pertimbangan sendiri. "Oh, kalau untuk perbaikan kipas angin sebenarnya saya dan suami mau menerima, walaupun kadang kita bilang ke calon pelanggan, lebih baik beli baru saja karena kalau diperbaiki memang lebih murah tapi mungkin enggak lama akan rusak lagi," tuturnya.

Fenomena Istri yang Terserap dalam Usaha Suami

Pengalaman Nur ini bukan hal yang asing. Sosiolog Janet Finch menyebutnya sebagai incorporated wives, yaitu kondisi ketika istri ikut terlibat dalam pekerjaan atau usaha suami tanpa pernah diakui secara resmi. Kontribusi mereka sering dianggap sebagai sesuatu yang sudah semestinya, bahkan terkadang sengaja disembunyikan. Padahal, tanpa peran mereka, usaha tersebut mungkin tidak akan berjalan lancar.

Menariknya, para istri ini jarang menganggap peran mereka sebagai beban. Mereka justru melihatnya sebagai bentuk kemitraan dan dukungan. Hal ini terlihat dari cara Nur dan perempuan lain di sekitarnya menjalani peran ganda mereka dengan ikhlas.

Perempuan dalam Ekosistem Reparasi yang Masih Timbang

Fenomena serupa juga ditemukan dalam survei lapangan yang dilakukan oleh Kopernik pada awal 2026 terhadap 22 praktisi reparasi di Gerokgak dan Gianyar, Bali. Hasilnya, hanya empat orang yang berstatus perempuan. Mereka ada yang menjadi pemilik toko reparasi, penjahit, atau bekerja di toko reparasi elektronik untuk menerima pesanan pelanggan. Temuan ini menunjukkan bahwa pembagian peran berbasis gender masih sangat kental dalam ekosistem reparasi.

Di Sukawati, Gianyar, kami juga menemukan hal yang sama. Saat memasuki sebuah toko reparasi elektronik, dua teknisi laki-laki yang sedang memperbaiki TV dan audio langsung menyita perhatian. Tak lama kemudian, seorang perempuan bernama Mega (41) menyapa kami. Ia ternyata pemilik usaha tersebut bersama suaminya. Mega dengan lancar menjelaskan kebijakan tokonya, "Kalau TV kita tidak terima merek lama, karena susah cari spare part-nya. Kalau memang ada pelanggan yang mau servis TV, kami minta mereka untuk berkabar dulu jauh hari supaya bisa kita beli dulu flyback-nya, karena kami nggak selalu ada stok di toko."

Mega juga mengaku sering menolak pelanggan yang datang karena keterbatasan suku cadang dan peralatan. Keputusan itu kadang membuatnya merasa tidak enak, tetapi mau bagaimana lagi. Cerita Mega dan Nur menunjukkan bahwa pemahaman mereka tentang seluk-beluk reparasi sangat mendalam. Namun, pengakuan atas kapasitas mereka masih sering luput, bahkan ketika mereka sudah membuktikan diri.

Mengapa Teknisi Perempuan Masih Sulit Terlihat?

Pertanyaan besarnya, mengapa teknisi perempuan seperti Nur dan Mega masih jarang terlihat, padahal mereka menguasai pekerjaannya? Akademisi Inggris, Cynthia Cockburn, menjelaskan bahwa pekerjaan teknis sering dianggap sebagai ranah maskulin. Akibatnya, perempuan yang menguasainya lebih sering dipandang sebagai pengecualian, bukan sesuatu yang lazim. Perspektif ini membuat kompetensi perempuan sering tidak diakui, karena pekerjaan reparasi memang lebih dulu dilekatkan pada laki-laki.

Kondisi ini menjadi ironi tersendiri. Di satu sisi, potensi perempuan dalam bidang reparasi sangat besar. Kopernik juga melakukan survei terhadap 223 rumah tangga mengenai ketertarikan mereka mengikuti lokakarya reparasi sederhana. Hasilnya, 52 persen responden menyatakan tertarik, dan hampir separuhnya (42,5 persen) adalah perempuan. Ini menunjukkan bahwa minat terhadap reparasi tidak hanya dimiliki laki-laki.

Survei lain yang dilakukan YouGov pada 2021 juga menemukan bahwa 63 persen masyarakat Indonesia lebih memilih memperbaiki barang rusak daripada menggantinya. Sayangnya, minat yang tinggi ini belum didukung oleh ekosistem yang memadai. Tingkat reparasi di tingkat nasional masih sangat rendah, hanya sekitar empat persen. Di Gerokgak dan Gianyar sendiri, 44 persen barang rusak sudah diperbaiki sendiri atau melalui teknisi informal. Namun, lebih dari separuh lainnya masih berakhir di tempat sampah atau menumpuk di rumah.

Kisah Nur dan Mega hanyalah dua dari sekian banyak perempuan yang bekerja di balik layar sektor reparasi. Mereka membuktikan bahwa kemampuan teknis tidak mengenal gender. Sudah saatnya kita membuka mata dan memberi ruang lebih bagi perempuan untuk bersinar di bidang yang selama ini dianggap milik laki-laki. Dengan begitu, ekosistem reparasi di Indonesia bisa semakin kuat dan inklusif.

Artikel ini membantu? Bagikan:
Fadila Utami

Tentang Penulis

Fadila Utami

Fadila Utami

Lihat semua artikel

Dapatkan Panduan Parenting Terbaru

Terima pilihan artikel parenting, kehamilan, kesehatan keluarga, resep, dan cerita ibu langsung ke email Anda.

Berita Terkait

Lihat Semua

Pilihan Editor

Lihat Semua