Perjalanan Spiritual Dewi Sandra: Hijrah Setelah Kehilangan dan Kegagalan
Dewi Sandra, yang dulu akrab di layar kaca, kini memilih jalan hidup yang berbeda. Kepergian sang ibu dan kegagalan rumah tangga menjadi titik balik yang mengantarkannya pada kedamaian spiritual. Bagaimana cerita lengkapnya? Yuk, simak perjalanan inspiratifnya.
Anisa Wahyuni
Ringkasan Artikel
AI- Kisah inspiratif Dewi Sandra yang memilih hijrah setelah kehilangan ibunda dan gagal di pernikahan kedua, menemukan kedamaian dalam Islam.
*Ringkasan dibuat dengan bantuan AI
Siapa yang tidak kenal dengan Dewi Sandra? Artis cantik berdarah Inggris ini sudah lama menghiasi industri hiburan Tanah Air. Namun, beberapa tahun terakhir, namanya mulai jarang terlihat di layar kaca. Bukan karena ditinggalkan penggemar, melainkan karena pilihan hidupnya untuk berhijrah dan fokus mendalami ajaran Islam.
Keputusan ini bukanlah hal yang tiba-tiba. Ada serangkaian peristiwa menyakitkan yang menjadi pemicunya. Dewi sempat merasa hidupnya berputar-putar tanpa arah yang jelas. Ia mulai mempertanyakan tujuan hidupnya yang sebenarnya.
"Semakin bertambah usia, kita pasti bertanya-tanya, untuk apa sih kita hidup di dunia ini? Apa tujuan hidup kita? Kita semua pasti akan mati, kan? Lalu setelah mati, apa yang terjadi?", ungkap Dewi dalam sebuah wawancara, seperti dikutip dari kanal YouTube The Sungkars.
Pertanyaan-pertanyaan eksistensial itu semakin kuat ketika ia harus kehilangan ibunda tercinta yang meninggal dunia pada tahun 2008. Tidak lama berselang, pernikahan keduanya dengan mendiang Glenn Fredly juga harus berakhir. Dua pukulan berat itu datang beruntun dan menghentakkan kesadarannya.
Titik Balik: Merasa Ada yang Salah
Dewi mengaku bahwa momen kehilangan dan kegagalan itu membuatnya merasa ada yang keliru dalam hidupnya. Namun, ia tidak bisa menyebutkan secara pasti apa kesalahan tersebut. Perasaan ini justru membawanya untuk merenung lebih dalam.
"Sampai akhirnya di satu fase, aku kehilangan ibu dan gagal di pernikahan kedua. Saat itu aku merasa harus berhenti. Sepertinya aku sedang melakukan sesuatu yang salah, tapi aku tidak paham apa salahnya," kenang Dewi.
Ia kemudian menyadari bahwa hidup ini bukan sepenuhnya miliknya. Ada Sang Pencipta yang menitipkan napas dan ruh di dalam jasadnya. Kesadaran inilah yang membuatnya mulai mencari tahu tentang pemilik sejati dirinya.
"Dari situ aku mulai berpikir, aku harus kembali kepada yang menciptakanku. Apa maunya pemilikku, bukan apa maunya aku. Lalu muncul pertanyaan, untuk apa Allah menyuruhku salat?" lanjutnya.
Belajar Pelan-Pelan Mengenal Islam
Perjalanan hijrah Dewi tidaklah mudah. Ia tumbuh di keluarga dengan latar belakang yang pluralis. Ayahnya yang semula ateis kemudian memeluk Islam, sedangkan ibunya adalah seorang muslimah. Ia juga menempuh pendidikan di sekolah internasional dengan gaya hidup kebarat-baratan.
"Aku tidak pernah mendapat pendidikan agama Islam secara formal, tidak pernah sekolah di madrasah. Jadi banyak faktor yang memengaruhi pemahamanku," jelas perempuan kelahiran 1980 ini.
Meski begitu, ia memulai langkah hijrahnya dengan mengikuti kajian-kajian. Perlahan tapi pasti, ia mulai memahami esensi ibadah, terutama salat. Dewi menemukan bahwa salat adalah sarana komunikasi antara hamba dan Penciptanya.
"Kenapa kita harus salat? Ternyata salat itu cara manusia berkomunikasi dengan Allah. Lalu kenapa harus berkomunikasi dengan Allah? Karena kita butuh pertolongan. Kalau minta tolong sama manusia, hasilnya stres, dikhianati, dibohongi, dilupakan," tuturnya.
Ia merasa lega karena menemukan tempat untuk bersandar yang tidak pernah mengecewakan. Allah selalu mendengar, melihat, dan menginginkan yang terbaik untuk dirinya. Dari sanalah tekadnya untuk berubah semakin kuat.
Menemukan Ketenangan dan Jatuh Cinta pada Islam
Seiring berjalannya waktu, pintu-pintu kemudahan mulai terbuka. Dewi dipertemukan dengan orang-orang baik yang membantunya memperdalam ilmu agama. Ia pun mulai sering menghadiri kajian dan mendengarkan ayat-ayat suci Al-Qur'an.
"Alhamdulillah, Allah memberikan jalan. Aku bertemu dengan orang-orang baik, bisa duduk di majelis ilmu, mendengar ayat-ayat-Nya. Rasanya seperti menemukan sesuatu yang luar biasa," ujarnya dengan mata berbinar.
Perlahan, ia mulai jatuh cinta pada Islam. Ia menyadari bahwa selama ini dirinya sangat jauh dari ajaran-Nya. Keputusan untuk hijrah pun diambil dengan penuh kesadaran dan keikhlasan.
Kisah Dewi Sandra ini menjadi pengingat bahwa setiap orang memiliki jalan cerita yang berbeda menuju pencerahan. Kehilangan dan kegagalan bisa menjadi awal dari perjalanan spiritual yang lebih bermakna. Semoga kisah ini bisa menginspirasi kita semua untuk terus mencari makna hidup yang lebih dalam.
Dapatkan Panduan Parenting Terbaru
Terima pilihan artikel parenting, kehamilan, kesehatan keluarga, resep, dan cerita ibu langsung ke email Anda.
Berita Terkait
Lihat Semua
Inspirasi
Inspirasi Nama Putri Kerajaan Jawa untuk Si Kecil, Penuh Makna Luhur
06 Juli 2026
Keluarga
Mimpi Pipa Air Bocor: Tanda Emosi, Rezeki, atau Peringatan?
07 Agustus 2026
Inspirasi
Panduan Memilih Karier yang Tepat untuk Masa Depan Cerah
07 Agustus 2026
Gaya Hidup
Rekomendasi Anime Berkesan yang Wajib Masuk Daftar Tontonanmu
31 Juli 2026
Gaya Hidup
Kepergian Mendadak Penggemar ENHYPEN di Seoul, Dunia ARMY Ikut Berduka
07 Agustus 2026
Gaya Hidup