Perkembangan kecerdasan buatan (AI) tidak hanya mengubah cara kita bekerja, tetapi juga merombak industri kreatif secara drastis. Salah satu yang merasakan dampaknya adalah Xu Peng, aktor berusia 30 tahun yang sebelumnya populer melalui drama pendek vertikal di Tiongkok. Setelah teknologi AI mengambil alih banyak proses produksi, tawaran akting untuknya pun mengering.

Dari Sorot Kamera ke Lapak Sayur

Xu Peng mengaku bahwa setelah menyelesaikan syuting drama terakhirnya pada Maret lalu, hampir tidak ada lagi panggilan untuk berakting. Daripada berlarut dalam kekecewaan, ia memilih pulang ke Provinsi Shandong untuk membantu usaha pertanian keluarganya. Kini, setiap pagi ia mengendarai mobil listrik untuk mengangkut hasil panen sayuran milik kakeknya ke pasar tradisional.

Bukan Hal yang Memalukan

Keputusan ini sempat membuat heran kerabat dan teman-temannya. Namun, Xu Peng santai menanggapinya. "Menjadi aktor hanyalah sebuah pekerjaan. Kalau tidak ada peran, saya cari cara lain untuk mencari nafkah. Yang penting kerja keras dan jujur," ujarnya dengan rendah hati. Sikapnya ini justru menuai pujian dari warganet yang melihat fotonya berjualan di pasar.

Dampak AI yang Tak Terbendung

Fenomena ini bukan cerita isolasi. Industri drama pendek Tiongkok tengah diguncang oleh efisiensi produksi berbasis AI. Laporan menyebutkan dari sekitar 128.000 drama mikro yang dirilis pada kuartal pertama 2026, lebih dari 95% di antaranya diproduksi dengan bantuan AI. Akibatnya, banyak aktor dan kru kehilangan pekerjaan, termasuk Xu Peng yang dulu bisa syuting 15-16 jam sehari.

Belajar dari Xu Peng

Kisah Xu Peng menjadi pengingat bahwa tidak ada pekerjaan yang abadi. Yang terpenting adalah kemampuan beradaptasi dan tetap produktif. Sembari menunggu angin segar kembali berembus di dunia akting, ia memilih berkebun dan berjualan. Popularitasnya bahkan membuat para penggemar datang langsung ke pasar untuk membeli sayur darinya.

Bagi kita para wanita karier, cerita ini bisa jadi refleksi. Mungkin suatu saat profesi kita juga akan tersentuh disrupsi. Tapi seperti Xu Peng, kita bisa tetap tegar dan mencari jalan lain. Yang penting adalah semangat untuk terus berkarya, apa pun bentuknya.

Reporter: Fadila Utami