Kasus penyekapan dan penganiayaan yang dilakukan Taufik Hidayat terhadap kekasihnya, YTR, masih menjadi perbincangan hangat. Setelah sempat buron, Taufik akhirnya ditangkap di kawasan Majalaya, Kabupaten Bandung. Namun, yang lebih menarik perhatian adalah pernyataan ayahnya, Tata, yang blak-blakan soal perlakuan istimewa terhadap anak ketiganya itu.
Anak Kesayangan Karena Lebih Ganteng
Dalam sebuah podcast bersama Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, Tata mengakui bahwa Taufik adalah anak kesayangannya. Alasannya? Taufik dianggap memiliki wajah yang lebih tampan dibanding saudara-saudaranya.
“Benar (paling) disayang. Ganteng gitu lah, beda dari yang (saudara) lain,” ujar Tata.
Tata juga mengakui bahwa ia sering membela Taufik saat berkelahi dengan orang lain. Sikap manja ini ternyata sudah terlihat sejak kecil dan berlanjut hingga dewasa.
Kekerasan pada Orang Tua
Tak hanya dimanjakan, Taufik ternyata pernah melakukan kekerasan pada ayahnya sendiri. Saat itu, ia memukul kepala Tata dengan kayu karena lapar dan tidak ada lauk di rumah.
“Pernah dipukul kepala pakai kayu. Waktu itu saya sedang bekerja di sawah. Dia lagi di rumah, nganggur. Mau makan, enggak ada ikan. Saat itu, ibunya sudah tidak ada,” ungkap Tata.
Meski perbuatan tersebut sangat menyakitkan, Tata justru memaafkan Taufik setelah ia kembali dan meminta maaf sambil menangis. Dedi Mulyadi pun berkomentar bahwa sikap ayah yang selalu memaafkan adalah cerminan anak yang terlalu dimanja.
Pelarian dan Penangkapan Taufik
Setelah kejadian penyekapan dan penganiayaan, Taufik melarikan diri ke Tangerang. Namun, ia merasa tidak aman dan kembali ke Jawa Barat hingga akhirnya ditangkap di Majalaya. Polisi melacaknya melalui aktivitas transaksi.
Kapolda Jabar Irjen Rudi Setiawan mengungkapkan bahwa Taufik mengaku melakukan semua perbuatannya di bawah pengaruh alkohol. Ia juga merasa takut dan curiga pada semua orang selama dalam pelarian.
Kondisi Korban dan Harapan Keluarga
Korban YTR kini masih menjalani perawatan di rumah sakit. Meski kondisi fisiknya mulai membaik, keluarga masih menjaga psikisnya. Bibi YTR, Erni, mengungkapkan bahwa YTR mengalami cacat permanen akibat penganiayaan tersebut.
“Kami ingin pelaku di hukum seberat-beratnya. Masa depan (korban) masih panjang, dia baru 29 tahun. Keponakan saya sudah cacat. Kondisinya mengkhawatirkan,” ujar Erni.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa pola asuh yang salah, seperti memanjakan anak secara berlebihan, bisa berdampak buruk pada perkembangan karakter dan perilaku di masa depan.