CeritaIbu.com
Update Parenting
Inspirasi

Perempuan di Garda Depan Aksi: Dari Teriakan hingga Sembako

Di tengah riuh aksi 27 Agustus, perempuan hadir bukan sekadar pelengkap. Mereka berteriak lantang, membagikan nasi kotak, sampai memunguti sampah. Ini kisah tentang keberanian yang tak pernah padam meski usia terus bertambah.

Maya Handayani
Maya Handayani

Maya Handayani

31 Agustus 2026 15:16:00 3 menit baca 25 dibaca
Bagikan:
Perempuan di Garda Depan Aksi: Dari Teriakan hingga Sembako

Ringkasan Artikel

AI
  • Kisah perempuan Indonesia yang turun dalam aksi 27 Agustus, dari berteriak lantang hingga membagikan logistik, menunjukkan keberanian dan kepedulian mereka terhadap negeri.

*Ringkasan dibuat dengan bantuan AI

Kamis itu, udara di sekitar Gedung DPR/MPR terasa panas oleh teriakan dan semangat. Di antara lautan manusia, ada tiga perempuan paruh baya yang berdiri tegak. Mereka bukan pendatang baru di medan ini; sejak 1998, mereka sudah akrab dengan aksi. Kini, status mereka sebagai ibu-ibu tak menghalangi langkah untuk tetap menyuarakan pendapat.

“Dulu kami mahasiswa, sekarang sudah jadi ibu-ibu, tapi tetap di sini. Yang kami hadapi masih wajah-wajah itu juga,” ujar salah satu dari mereka, diselingi umpatan yang menohok. Mereka datang bukan tanpa alasan. Kebijakan yang dianggap merugikan rakyat, seperti program Makan Bergizi Gratis yang belakangan menuai kontroversi, membuat mereka geram. Temuan benda mencurigakan di dalam daging yang seharusnya bergizi itu menjadi puncak kekesalan.

“Sampai-sampai ada peluru di dalam daging. Itu berarti tidak ada kontrol kualitas. Ini sudah keterlaluan,” kata yang lain dengan nada getir. Baginya, program yang digadang-gadang untuk rakyat justru menjadi ajang bagi-bagi proyek.

Namun, aksi bukan hanya soal berteriak. Di sudut lain, sekelompok perempuan dengan kaus pink sibuk membagikan air mineral dan makanan. Mereka adalah relawan Nadi Perempuan, yang baru terbentuk sehari sebelum aksi. Tanpa saling kenal, 35 orang ini bahu-membahu menyiapkan logistik dan pertolongan pertama. “Kami sediakan obat, oksigen, juga plester luka. Semua dari donasi,” jelas koordinatornya.

Donasi yang terkumpul mencapai jutaan rupiah, dipakai untuk membeli obat, mencetak poster, dan transportasi. Sisa uang akan digunakan untuk membeli makanan tambahan untuk aksi sore nanti. Menariknya, banyak warga yang melintas ikut menitipkan rezeki, dari roti hingga lontong. “Ada juga yang nitip lewat media sosial. Jadi, meski tidak bisa hadir, mereka tetap berkontribusi,” tambahnya.

Di tengah kesibukan itu, dua perempuan lain berjalan sambil memunguti botol dan bungkus makanan. Mereka adalah Galuh dan Khusna, yang rela cuti kerja demi aksi. “Ini langkah besar bagi kami. Sebelumnya kami tak pernah berani demo. Tapi sekarang, kami merasa sudah saatnya,” ujar Galuh. Mereka memilih peran yang mungkin terlihat sederhana: menjaga kebersihan area aksi. “Ini yang bisa kami lakukan,” tuturnya.

Ada banyak wajah perempuan dalam aksi kali ini. Ada yang berteriak, ada yang diam-diam membagikan nasi, ada yang sibuk memungut sampah. Semua punya satu tujuan yang sama: kepedulian terhadap negeri. Mereka membuktikan bahwa suara perempuan tak pernah absen dalam sejarah perubahan.

Ketika matahari mulai condong, mereka masih bertahan. Beberapa mulai melemaskan otot, tetapi semangat tak kendur. “Kami muak. Tapi kami tidak akan berhenti bersuara,” kata Tata, salah satu perempuan yang sejak 1998 tak pernah absen. Senyumnya lelah, tapi matanya berbinar.

Inilah potret nyata: perempuan bukan hanya objek dalam pusaran politik, melainkan subjek yang aktif menentukan arah. Mereka hadir dengan segala caranya, dan itu patut diacungi jempol.

Artikel ini membantu? Bagikan:
Maya Handayani

Tentang Penulis

Maya Handayani

Maya Handayani

Lihat semua artikel

Dapatkan Panduan Parenting Terbaru

Terima pilihan artikel parenting, kehamilan, kesehatan keluarga, resep, dan cerita ibu langsung ke email Anda.

Berita Terkait

Lihat Semua

Pilihan Editor

Lihat Semua