Ketika Diam Jadi Bahaya: Pelajaran dari Kasus Bandung

Penulis: Sri Rahayu
Kamis, 25 Juni 2026 | 18:48:00 WIB

Kasus penyekapan dan penyiksaan perempuan di Bandung akhirnya terungkap, dan pelaku telah ditangkap. Rasa marah dan simpati pun mengalir deras dari berbagai pihak. Namun, setelah amarah reda, tersisa satu pertanyaan yang mengusik: bagaimana mungkin kekerasan begitu keji bisa berlangsung lama tanpa ada yang bertindak?

Isolasi sebagai Alat Kekuasaan

Dalam podcast yang menghadirkan keluarga dan korban, terungkap bahwa kekerasan dilakukan secara sistematis. Bukan sekadar ledakan amarah, ini adalah cara pelaku membangun relasi kuasa. Korban diputus dari semua akses: penglihatan, pendengaran, bahkan harapan untuk selamat. Pelaku sengaja merusak mata korban agar ia tak bisa mengenali tempat, dan menguncinya dari dunia luar.

Praktik ini disebut coercive control, istilah yang diperkenalkan oleh Evan Stark. Korban dijauhkan dari keluarga, dipisahkan dari teman, dan dibuat percaya bahwa tak ada jalan pulang. Suara korban yang tenang dalam podcast justru paling mengguncang—bukan karena ia kuat, tapi karena isolasi panjang telah mematikan harapannya.

Tanda Bahaya yang Tak Dibaca

Permukiman padat, suara benturan dari kamar, korban yang terlihat lemah, pintu yang selalu terkunci dari luar—semua itu adalah sinyal bahaya. Namun, lingkungan sekitar memilih diam. Alasan klasik seperti “tidak ingin ikut campur” atau “takut mencari masalah” menjadi pembenaran. Padahal, diam dalam situasi seperti ini bukanlah netral, melainkan bentuk partisipasi dalam kekerasan.

Negara yang Terlambat Hadir

Negara baru bergerak setelah korban dirawat di rumah sakit. Di banyak kasus lain, negara bahkan baru datang setelah korban meninggal. Ironisnya, di setiap lingkungan ada aturan “Tamu Wajib Lapor” yang ketat, tapi tak ada yang mewajibkan lapor saat melihat tanda kekerasan. Kita sibuk mencatat siapa yang datang, tapi abai pada siapa yang mungkin minta tolong.

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Kepekaan dan keberanian untuk bertindak bisa menjadi celah keselamatan bagi korban. Jangan biarkan tanda bahaya hanya berhenti di telinga. Jika melihat sesuatu yang mencurigakan, jangan ragu untuk bertanya, melapor, atau setidaknya memberi tahu pihak berwenang. Karena seringkali, satu tindakan kecil bisa mengubah segalanya.

Kasus Bandung mengingatkan kita bahwa kekerasan tidak selalu terjadi di tempat sunyi. Ia bisa terjadi di tengah keramaian, di samping rumah kita, asalkan orang-orang di sekitar memilih untuk tutup mata. Saatnya kita memutus rantai diam yang berbahaya ini.

Reporter: Sri Rahayu