Pandji Pragiwaksono, nama yang sudah malang melintang di industri komedi Tanah Air, kini memulai babak baru di Amerika Serikat. Dalam wawancara dengan media internasional, ia bercerita tentang perjalanannya membangun karier dari titik nol di negeri Paman Sam. Keputusan berani ini diambilnya setelah bertahun-tahun menjadi salah satu komika paling sukses di Indonesia.

Tur Perdana dan Persiapan Matang

Rencana besar Pandji dimulai dengan tur stand-up berbahasa Inggris pertamanya yang dijadwalkan pada 26 Agustus di Australia. Setelah itu, ia akan melanjutkan ke Amerika Serikat dan Kanada. Namun, sebelum tur besar itu, ia memilih untuk tampil di berbagai open mic di New York. Langkah ini bukan tanpa alasan; ia ingin menguji materi barunya dan merasakan langsung respons audiens lokal yang berbeda.

"Saya belum menghasilkan uang di AS," ujar Pandji dengan rendah hati. Ia sadar bahwa proses ini butuh waktu, dan tur berikutnya diharapkan bisa mengubah kondisi finansialnya. Semangatnya untuk terus belajar dan beradaptasi patut diacungi jempol.

Adaptasi Gaya Komedi: Storytelling vs Tempo Cepat

Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Pandji adalah perbedaan gaya komedi antara Indonesia dan Amerika. Di Indonesia, ia terbiasa membawakan materi dengan alur cerita panjang sebelum sampai pada punchline besar. Penonton di sana sangat menikmati storytelling yang mendalam.

"Indonesia sangat menyukai storytelling. Banyak materi komedi yang punya setup panjang sebelum mencapai punchline besar," jelasnya. Namun, di New York, ia harus beradaptasi dengan tempo yang jauh lebih cepat.

"Orang-orang di New York maunya setup, punchline, setup, punchline," katanya. Perbedaan ini memaksanya untuk mengubah cara penyampaian materi secara signifikan. Ia pun menyadari bahwa menerjemahkan materi lama saja tidak cukup; ia perlu menciptakan sesuatu yang benar-benar baru.

Open Mic sebagai Laboratorium Kreativitas

Open mic menjadi tempat belajar yang sangat berharga bagi Pandji. Dari panggung-panggung kecil ini, ia tidak hanya mengasah kemampuan berbahasa Inggris, tetapi juga menyerap kebiasaan sosial masyarakat Amerika. Hal ini menjadi bahan bakar untuk menulis materi-materi segar.

"Saya jadi belajar bagaimana orang Amerika bersikap dalam kehidupan sosial, termasuk dinamika hubungan antara orang tua dan anak," ujarnya. Bahkan, ia mengaku kini paham berbagai stereotip yang melekat pada Florida!

Menemukan Identitas di Tengah Krisis

Pandji mengaku sempat mengalami krisis identitas komedi ketika pertama kali menetap di Amerika. Ia sempat mencoba mengangkat isu-isu terkini, tetapi merasa banyak komika lain yang menempuh jalur serupa. Akhirnya, ia memilih untuk mengangkat cerita tentang Indonesia sebagai pembeda di panggung Amerika.

Menariknya, materi berbahasa Inggris yang ia bawakan cenderung lebih ringan dibandingkan saat tampil di Tanah Air. Di Indonesia, ia dikenal kerap mengkritik pemerintah dan mengangkat isu politik. Di Amerika, ia memilih tema yang lebih universal dan menyenangkan.

"Bahkan gaya bicara saya pun berbeda," kata Pandji. "Seolah-olah itu adalah dua komedian yang berbeda." Ini menunjukkan betapa fleksibelnya ia sebagai seorang entertainer.

Menjaga Ego dan Fokus pada Proses

Bagi Pandji, open mic memberikan ruang uji yang jujur tanpa pengaruh popularitas. Di Indonesia, ia kadang ragu apakah penonton tertawa karena leluconnya atau hanya karena dirinya yang terkenal. Di New York, ia bisa mengukur kualitas materi secara objektif.

Meskipun begitu, godaan untuk kembali ke Indonesia selalu ada. Saat mengikuti open mic, ia sering berpikir bahwa akan jauh lebih mudah jika memulai lagi di kampung halaman. Namun, ia memilih bertahan dan mengendalikan egonya.

"Sesekali ego memang muncul, tetapi saya harus mengendalikannya dan mengingat bahwa ada proses yang harus saya lewati," pungkasnya. Kisah Pandji ini menjadi inspirasi bagi siapa saja yang ingin memulai kembali di usia berapa pun.

Reporter: Salsabila Wahyudi