Puluhan orang berkumpul di luar Kios Ojo Keos, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, pada suatu petang. Mereka datang bukan untuk sekadar nongkrong, melainkan untuk mendengarkan langsung lagu terbaru Efek Rumah Kaca (ERK) yang berjudul 'Matilah Kau Mati'. Suasana di dalam kafe yang juga menjadi toko buku itu tak kalah ramai. Pengunjung larut dalam alunan gitar yang lembut dan vokal Cholil Mahmud yang mengawang-awang. Beberapa orang bahkan memejamkan mata, seolah ingin meresapi setiap bait lirik tanpa gangguan.

Dari Puisi ke Lagu

'Matilah Kau Mati' bukanlah lagu yang lahir begitu saja. Lagu ini diadaptasi dari puisi berjudul 'Di Hari Kematianku' dalam novel Laut Bercerita (2017) karya Leila S. Chudori. Awalnya, Leila menamai puisinya dengan judul tersebut. Namun, Cholil mengusulkan perubahan judul menjadi 'Matilah Kau Mati', yang diambil dari salah satu penggalan puisi. “Mas Cholil bilang kenapa enggak judulnya ‘Matilah Kau Mati’, karena itu sudah ikonik banget,” kenang Leila.

Lagu ini menjadi soundtrack film Laut Bercerita yang dijadwalkan tayang di bioskop pada Oktober mendatang. Sebelumnya, kisah Biru Laut, seorang aktivis yang dihilangkan oleh pemerintah otoriter, telah lebih dulu diadaptasi menjadi film pendek pada 2024. Bagi ERK, ini adalah pengalaman pertama mereka menggarap soundtrack film. “Ada sih OST Mata Najwa, tapi kan itu bukan film,” kata Cholil.

Transformasi Luka dalam Nada

Setelah mendalami kisah Laut lewat novel dan film pendeknya, Cholil memilih nuansa tenang dengan kunci Major7, yang lazim digunakan dalam genre shoegaze maupun dream-pop. Menurutnya, karakter bunyi itu paling mendekati emosi yang ingin dihadirkan dalam lagu. “Gua pingin ada kayak ketenangan dalam menunggu, dia mentransformasikan lukanya menjadi sesuatu hal penantian yang lebih adem, enggak yang meledak-ledak, jadi secara tempo emang lebih lambat,” jelas Cholil.

Pilihan ini berangkat dari cerita di balik lirik. Bait yang berbicara tentang penantian tidak perlu dibawakan dengan kemarahan yang meledak-ledak. Penantian keluarga dan orang-orang terdekat Laut justru dipenuhi kegelisahan yang perlahan berubah menjadi keteguhan. Gambaran itu mengingatkan Cholil pada pendiri Aksi Kamisan, Maria Catarina Sumarsih. “Kayak ibu Sumarsih saja, dia kan kehilangan (anaknya), terus bisa mentransformasikan rasa hilangnya jadi keberanian, jadi keteguhan untuk terus ada di Aksi Kamisan.”

Bunyi yang Bercerita

Nuansa tenang tidak hanya dibangun lewat melodi, tetapi juga aransemen yang sengaja dibuat minim instrumen. Bas, gitar, dan vokal menjadi tumpuan utama lagu. Kesederhanaan itu justru memberi ruang bagi lirik untuk berbicara. Cholil menyerahkan komposisi instrumen sepenuhnya kepada sang anak, Angan Senja. Angan ingin menghindari aransemen yang terdengar terlalu kosong. Ia menambahkan dengungan dan snare dengan efek delay untuk mengisi ruang tanpa membuat lagu terasa terlalu padat.

“Aku enggak mau lagunya kayak terlalu hollow, so in order to fill the song, ada banyak momen yang pakai dengungan, untuk fill the space without over-produce,” ujar Angan. Pilihan instrumen itu bukan tanpa alasan. Snare dengan efek delay yang mengikuti tempo lagu, misalnya, digunakan untuk menghadirkan kesan berada di dalam laut. Detail bunyi itu menjadi salah satu cara ERK menerjemahkan kisah Biru Laut ke dalam aransemen.

Relevansi Sosial Politik

Bagi Cholil, 'Matilah Kau Mati' tak hanya menggambarkan kisah Biru Laut. Lagu itu juga terasa dekat dengan situasi sosial politik hari ini, ketika ruang warga untuk menyampaikan pendapat dinilai semakin rentan. “Itu kan bikin kayak teror buat orang biasa untuk speak up bahkan di media sosial kita sendiri aja, mungkin kita takut, karena kayak massa bayarannya untuk mempersekusi itu bisa kapan aja datang,” tutur Cholil.

Lagu ini lahir dari keresahan yang mendalam, namun dikemas dengan cara yang tenang dan reflektif. Seperti kata Cholil, “Matilah kau mati, kau terlahir berkali-kali.” Sebuah pengingat bahwa meskipun luka dan kehilangan hadir, kita bisa terus bangkit dan berjuang dengan cara kita sendiri.

Reporter: Sania Putri