Bagi pasangan yang sedang berjuang mendapatkan momongan, program bayi tabung (IVF) sering menjadi harapan terakhir. Namun, karena tingkat keberhasilannya belum 100%, banyak klinik menawarkan berbagai prosedur tambahan atau yang dikenal dengan IVF add-ons. Mulai dari akupunktur hingga pengujian genetik, semuanya diklaim mampu meningkatkan peluang kehamilan. Tapi, benarkah demikian?
Apa Itu IVF Add-Ons?
IVF add-ons adalah prosedur, tes, atau terapi ekstra yang ditambahkan ke dalam protokol IVF standar. Tujuannya untuk meningkatkan kemungkinan implantasi embrio, mencegah keguguran, atau memperbaiki kualitas sel telur dan sperma. Sayangnya, sebagian besar add-on ini membutuhkan biaya tambahan yang tidak sedikit dan belum tentu dijamin oleh asuransi.
Studi Terbaru: Hanya 3 dari 10 yang Terbukti Bermanfaat
Sebuah tinjauan sistematis yang diterbitkan di jurnal The Lancet Obstetrics, Gynaecology & Women's Health menganalisis 157 uji klinis acak tentang 10 jenis IVF add-ons yang paling sering digunakan. Setelah menyaring penelitian yang kualitasnya diragukan, peneliti hanya menggunakan 85 studi yang dianggap andal. Hasilnya? Tujuh dari sepuluh add-on tersebut tidak memiliki bukti kuat untuk meningkatkan keberhasilan IVF.
Hanya tiga prosedur yang menunjukkan potensi manfaat, meski buktinya masih lemah:
- EmbryoGlue – Media transfer embrio yang mengandung asam hialuronat, diklaim meningkatkan implantasi.
- Endometrial scratching – Membuat goresan ringan pada dinding rahim sebelum transfer embrio untuk merangsang respons implantasi.
- PICSI (Physiological Intracytoplasmic Sperm Injection) – Teknik memilih sperma matang yang mampu berikatan dengan asam hialuronat, diharapkan menurunkan risiko keguguran.
Add-Ons yang Belum Terbukti Efektif
Berikut adalah tujuh add-on yang belum didukung bukti ilmiah yang memadai:
- Akupunktur
- Kortikosteroid (obat anti-inflamasi)
- Endometrial Receptivity Array (ERA) – biopsi rahim untuk menilai kesiapan implantasi
- Infus intralipid – cairan lemak yang disuntikkan ke pembuluh darah
- Injeksi intraovarium platelet-rich plasma (PRP)
- Infus intrauterin PRP
- Preimplantation Genetic Testing for Aneuploidy (PGT-A) – skrining kromosom embrio
Kenapa Banyak Klinik Menawarkan Add-Ons?
Dr. Sarah Lensen, peneliti utama dari Universitas Melbourne, mengatakan bahwa banyak pasien mendapatkan informasi tentang add-ons dari situs klinik atau media sosial yang sering melebih-lebihkan manfaatnya. “Di banyak negara, perawatan infertilitas disediakan oleh klinik swasta yang sangat komersial, sehingga beberapa add-on dijual dengan harga mahal,” jelasnya. Kondisi ini bisa menimbulkan harapan palsu dan beban finansial yang tidak perlu.
Apa yang Harus Dilakukan Pasien IVF?
Hasil studi ini bukan berarti Anda harus menolak semua add-ons. Namun, penting untuk berdiskusi secara terbuka dengan dokter mengenai bukti ilmiah di balik setiap prosedur. Jangan ragu untuk bertanya apakah add-on tersebut benar-benar diperlukan untuk kondisi Anda, atau hanya sekadar pilihan yang belum terbukti. Ingat, keputusan terbaik adalah yang didasarkan pada fakta, bukan sekadar tren atau janji manis.