Setiap ibu pasti setuju, memiliki teman itu penting. Mereka jadi tempat curhat, support system, dan kadang bikin kita tetap waras di tengah hiruk-pikuk rumah tangga. Namun, enggak semua pertemanan membawa dampak positif. Ada kalanya kita justru merasa lelah, cemas, atau direndahkan setelah berinteraksi dengan teman tertentu.
Tanda Pertemanan yang Tidak Sehat
Berikut ini ciri-ciri yang perlu diwaspadai agar kamu bisa lebih bijak memilih lingkaran pertemanan:
- Suka menyebarkan gosip – Kamu cerita rahasia, eh besoknya semua orang tahu. Teman yang sehat pasti menjaga kepercayaan.
- Terlalu kompetitif – Bukannya saling mendukung, dia malah terus membanding-bandingkan pencapaian. Padahal teman sejati itu satu tim, bukan lawan.
- Selalu ingin jadi pusat perhatian – Dia hanya ada saat senang atau butuh bantuan, tapi menghilang saat kamu susah. Curhatnya panjang, giliran kamu cerita, dia cuek.
- Suka merendahkan – Bercanda boleh, tapi kalau terus-menerus direndahkan atau dihina, itu tanda bahaya. Teman baik tidak akan membuatmu merasa kecil.
- Membuatmu gelisah – Setiap kali mau ketemu atau chatting, kamu merasa tidak nyaman. Bahkan setelah bertemu, kamu merasa lega karena acara selesai.
- Suka membandingkan dengan orang lain – “Rumahmu kecil, ya”, “Kok bajunya gitu?”. Teman sejati menerima kamu apa adanya, bukan membandingkan dengan orang lain.
- Mencoba mengubah dirimu – Dia terus mengkritik kepribadianmu dan ingin kamu jadi versi yang dia inginkan. Padahal teman baik mendukung perubahan positif yang kamu inginkan sendiri.
- Minta maaf tapi tidak tulus – Permintaan maafnya setengah hati, diikuti kata “tapi” atau nada defensif. Artinya dia tidak benar-benar peduli dengan perasaanmu.
- Kamu malas melihat namanya di ponsel – Ketika notifikasi masuk dari dia, kamu langsung merasa lelah. Itu pertanda jelas bahwa hubungan ini menguras energi.
Kalau kamu mengalami beberapa tanda di atas, jangan ragu untuk menjauh. Kesehatan mentalmu lebih berharga. Ingat, lebih baik punya sedikit teman yang berkualitas daripada banyak teman yang bikin stres.
Reporter: Mutiara Salimah