Energi Hijau, Air Mata Perempuan di Kaki Ijen

Penulis: Mutiara Salimah
Senin, 06 Juli 2026 | 21:05:00 WIB

Suara dentuman keras menggelegar di pagi yang tenang pada 26 April 2020. Warga Desa Kalianyar, Bondowoso, berhamburan keluar rumah saat ledakan dari proyek PLTP Blawan Ijen mengguncang kawasan mereka. Bagi Rany (50), yang sedang berkebun, momen itu terasa seperti mimpi buruk. Ia melihat kobaran api hitam dan kepulan asap tebal, seolah ada pesawat yang jatuh.

Silvi (28) baru saja melahirkan saat ledakan terjadi. Dengan tubuh yang masih lemah, ia harus menggendong bayinya dan ikut mengungsi bersama warga lain. Trauma itu masih membekas hingga kini. “Saya takut kalau meledak lagi sampai ke sini,” ujarnya lirih.

Ledakan tersebut hanyalah satu dari sekian dampak yang dirasakan warga sejak proyek panas bumi beroperasi. Sebagian petani mengeluhkan penurunan hasil pertanian, air sumur berubah rasa dan bau, serta sesekali tercium bau gas menyengat dari arah proyek. Perubahan ini mengubah keseharian mereka, terutama perempuan yang harus memutar otak untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Kopi yang Tak Lagi Bersemi

Desa Kalianyar, yang dihuni sekitar 1.384 kepala keluarga, menjadi pusat aktivitas proyek. Ribuan hektare lahan pertanian, termasuk kebun kopi warisan turun-temurun, harus rela dibabat untuk pembangunan sumur pengeboran, akses jalan, dan infrastruktur pendukung. Kopi bukan sekadar tanaman; ia adalah tabungan masa depan bagi banyak keluarga.

Donny, seorang perangkat desa, menceritakan bagaimana ia mendampingi empat warga yang lahannya terkena dampak. Ada pohon kopi yang sudah berusia empat tahun dan siap panen, ditebang tanpa kompensasi. “Kopi itu bisa menyejahterakan masyarakat. Tabungan untuk hari tua dan pendidikan anak. Tapi sekarang warga khawatir,” tuturnya.

Untuk membuka lahan kopi seluas satu hektare, petani harus merogoh kocek Rp15–25 juta hanya untuk bibit, plus biaya tenaga kerja. Butuh waktu 3–4 tahun menunggu pohon berbuah. Ketika tanaman itu ditebang sebelum masa panen, kerugian yang diderita bukan hanya materi, tetapi juga waktu dan tenaga yang telah dikorbankan.

Air, Cabai, dan Perjuangan Perempuan

Firman (63) menunjukkan perubahan pada kebun cabainya yang terletak sekitar 200 meter dari sumur eksplorasi. Tanaman cabai yang dulu subur dengan rambatan mencapai 100 sentimeter kini hanya tumbuh setengahnya. Daun-daun tampak menguning dan buahnya kecil-kecil. “Dulu hasilnya bagus, sekarang merosot,” katanya.

Namun, dampak paling terasa justru pada perempuan. Selain kehilangan pendapatan dari pertanian, mereka harus menghadapi krisis air bersih dan biaya hidup yang membengkak. Banyak dari mereka yang harus berjalan lebih jauh untuk mencari sumber air, sementara suami terpaksa bekerja serabutan di kota untuk menutup pengeluaran yang meningkat.

“Saya harus pintar-pintar mengatur uang. Kadang masak pakai air yang agak keruh karena tidak ada pilihan,” keluh seorang ibu rumah tangga yang enggan disebut namanya. Beban mental pun menumpuk: rasa cemas akan ledakan susulan, khawatir akan masa depan anak-anak, dan lelah menjalani peran ganda.

Harapan di Tengah Kabut

Warga tak ingin proyek ini berhenti, tapi mereka meminta kompensasi yang adil dan pemulihan lingkungan yang nyata. Mereka ingin anak-anak mereka tetap bisa sekolah, dan kebun kopi yang menjadi identitas desa bisa kembali hijau. Seperti kata Donny, “Kami hanya ingin hidup layak, seperti sebelum proyek ini ada.”

Kisah di kaki Ijen ini mengingatkan kita bahwa transisi energi hijau tak boleh mengabaikan kemanusiaan. Di balik megawatt listrik yang dihasilkan, ada air mata perempuan yang berjuang untuk keluarganya, dan mimpi petani yang tercabut dari akarnya.

Reporter: Mutiara Salimah