Kabar duka kembali menyelimuti Papua. Melkiana Duwita, seorang ibu yang tengah mengandung tujuh bulan, ditemukan meninggal di Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, pada Selasa (2/7) malam. Ia diduga tewas tertembak bersama janin yang dikandungnya.
Dari informasi yang dihimpun, lokasi kejadian tak jauh dari pos militer—hanya sekitar 50 meter dari rumah korban. Suara tembakan sempat terdengar dari arah pos tersebut sebelum Melkiana ditemukan dalam kondisi tak bernyawa. Juru Bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB), Sebby Sambom, membenarkan adanya insiden ini. Ia menyebutkan bahwa tembakan diduga berasal dari aparat militer Indonesia yang diarahkan ke rumah-rumah warga sipil di pusat Kota Sugapa.
"Penembakan itu diduga dilakukan oleh aparat militer Indonesia dari dalam pos, yang ditujukan ke rumah-rumah warga sipil hingga menyebabkan jatuhnya korban jiwa seorang ibu hamil," ujar Sambom kepada media setempat.
Korban Sipil Berjatuhan
Kematian Melkiana bukanlah yang pertama. Dalam rentang 29 Juni hingga 2 Juli, setidaknya empat warga sipil dilaporkan tewas tertembak. Mereka adalah seorang gembala bernama Elianus Agimbau, seorang pemuda Okto Tigau, serta Melkiana dan bayinya yang belum lahir. Tragedi ini menunjukkan betapa tingginya risiko yang dihadapi warga sipil di tengah operasi keamanan yang kian intensif di Intan Jaya.
Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, menyesalkan rangkaian peristiwa ini. Menurutnya, pendekatan keamanan yang militeristik justru melahirkan siklus kekerasan baru. "Warga sipil terus menjadi korban ketika pendekatan keamanan dikedepankan. Ini bukti nyata bahwa kekerasan di Tanah Papua belum menemukan titik terang," tegasnya.
Usman mendesak pemerintah untuk mengusut tuntas kasus ini secara transparan dan independen. Ia juga mendorong pembentukan tim pencari fakta independen untuk menyelidiki pembunuhan di luar hukum yang terjadi di Papua.
Kerentanan Berlapis pada Perempuan Papua
Siti Aminah Tardi dari Indonesian Legal Resource Center (ILRC) menyoroti kerentanan berlapis yang dialami korban. Selain tinggal di daerah konflik, Melkiana adalah seorang perempuan hamil—yang berarti menghadapi risiko ganda akibat gender, kondisi kehamilan, etnis, dan situasi keamanan yang tidak stabil.
"Penyelidikan independen harus segera dilakukan agar penyebab kematian Melkiana terungkap secara transparan. Ini penting untuk mencegah impunitas dan menghindari memburuknya situasi kekerasan di Papua," ujar Amik, sapaan akrabnya.
Kematian seorang ibu hamil bukan hanya kehilangan satu nyawa, tetapi juga masa depan seorang anak. Di tengah situasi yang masih memanas, warga sipil terus menanti keadilan. Sampai kapan nyawa harus melayang tanpa ada kejelasan?