Kalau kamu aktif di media sosial, pasti pernah melihat video suporter Jepang yang masih sibuk memungut sampah di stadion setelah timnya bertanding. Mereka mengumpulkan botol plastik, bungkus makanan, hingga kertas kecil yang berserakan. Pemandangan ini sudah menjadi pemandangan umum di setiap ajang Piala Dunia, dari Rusia 2018, Qatar 2022, hingga Piala Dunia 2026.

Apa Itu Gomi Hiroi?

Gomi hiroi adalah istilah Jepang untuk kegiatan memungut sampah. Kebiasaan ini sudah ditanamkan sejak kecil di Jepang. Anak-anak diajarkan untuk membersihkan ruang kelas mereka sendiri tanpa bantuan petugas kebersihan. Nilai ini mengajarkan tanggung jawab terhadap ruang bersama dan rasa hormat kepada orang lain.

Bagi suporter Jepang, membersihkan stadion adalah bentuk penghormatan sebagai tamu di negara lain. Mereka menganggap stadion sebagai milik bersama yang harus dirawat. Aksi ini bukan hal yang luar biasa bagi mereka, melainkan bagian dari kebiasaan sehari-hari.

Mengapa Aksi Ini Dipuji?

Di banyak negara, stadion sepak bola sering dipenuhi sampah setelah pertandingan. Suporter biasanya langsung pulang tanpa mempedulikan kebersihan. Karena itu, ketika suporter Jepang justru membersihkan tribun, aksi ini terlihat istimewa. Mereka menunjukkan bahwa menjadi penonton tidak harus meninggalkan sampah.

Aksi ini juga menular. Dalam psikologi sosial, dikenal konsep social proof, yaitu kecenderungan mengikuti perilaku baik yang dilakukan orang lain. Beberapa suporter dari negara lain ikut memungut sampah setelah melihat kebiasaan fans Jepang. Ini perlahan membentuk norma baru tentang kebersihan di stadion.

Kritik yang Muncul dari Dalam Negeri

Meski menuai pujian, gomi hiroi juga mendapat kritik, terutama dari masyarakat Jepang sendiri. Mereka mempertanyakan apakah aksi ini benar-benar tulus atau sudah bergeser menjadi pencitraan di mata dunia. Beberapa menganggap bahwa kebiasaan ini menjadi beban ekspektasi yang tidak adil bagi suporter Jepang.

Kritik lainnya menyoroti bahwa budaya bersih-bersih ini tidak selalu mencerminkan realitas sosial di Jepang. Banyak pekerja asing di Jepang yang mengeluhkan eksploitasi di sektor kebersihan. Jadi, ada ironi ketika budaya bersih dipuja, namun di baliknya ada isu ketenagakerjaan yang kurang adil.

Perdebatan tentang Pembagian Kerja Domestik

Kritik yang lebih tajam datang dari perspektif gender. Di Jepang, pekerjaan domestik seperti membersihkan rumah dan ruang publik sering dianggap sebagai tugas perempuan. Budaya gomi hiroi di stadion, yang dilakukan oleh suporter (mayoritas laki-laki), dianggap sebagai bentuk partisipasi publik yang mendapat pujian. Namun, di rumah, pekerjaan serupa sering tidak dihargai dan dibebankan pada perempuan.

Hal ini memicu pertanyaan: mengapa kerja bersih-bersih di ruang publik dianggap heroik, sementara di ranah domestik dianggap remeh? Perdebatan ini menyoroti ketimpangan gender dalam pembagian kerja di Jepang.

Kesimpulan

Gomi hiroi adalah budaya yang kompleks. Di satu sisi, aksi ini menunjukkan tanggung jawab sosial dan rasa hormat. Di sisi lain, ia juga menyimpan kontroversi tentang motivasi tulus vs pencitraan, serta isu ketidaksetaraan gender. Yang jelas, kebiasaan ini telah mengubah cara pandang dunia tentang suporter sepak bola. Namun, kita juga perlu melihat sisi lain dari cerita ini.

Reporter: Fadila Utami