CeritaIbu.com
Update Parenting
Keluarga

Pekerjaan Rumah Tangga dalam Islam: Kewajiban Siapa Sebenarnya?

Pernahkah Anda bertengkar dengan suami soal siapa yang harus memasak atau mengepel? Dalam Islam, pandangan tentang pekerjaan rumah ternyata tidak seperti yang selama ini kita kira. Yuk, simak penjelasan dari hadis dan pendapat ulama agar rumah tangga makin harmonis.

Sania Putri
Sania Putri

Sania Putri

05 Juli 2026 21:01:00 2 menit baca 59 dibaca
Bagikan:
Pekerjaan Rumah Tangga dalam Islam: Kewajiban Siapa Sebenarnya?

Ringkasan Artikel

AI
  • Pandangan Islam tentang pekerjaan rumah tangga: bukan kewajiban istri, melainkan tanggung jawab bersama yang dicontohkan Rasulullah SAW.

*Ringkasan dibuat dengan bantuan AI

Setiap pasangan pasti pernah mengalami perdebatan mengenai pembagian tugas rumah tangga. Tak jarang, istri merasa terbebani karena harus mengurus semua urusan domestik sendirian. Lantas, bagaimana sebenarnya pandangan Islam dalam masalah ini?

Teladan Rasulullah SAW dalam Membantu Pekerjaan Rumah

Rasulullah SAW adalah contoh terbaik bagi umatnya, termasuk dalam urusan rumah tangga. Meski memiliki beberapa istri, beliau tidak pernah menyuruh mereka mengerjakan semua pekerjaan rumah seorang diri. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah RA, beliau berkata, “Rasulullah SAW biasa menjahit pakaiannya sendiri, memerah susu, dan melayani dirinya sendiri.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi). Hadis lain dari Bukhari juga menyebutkan bahwa beliau sering membantu keluarganya di rumah.

Kebiasaan mulia ini menunjukkan bahwa membantu pekerjaan rumah adalah bentuk kasih sayang suami kepada istri. Bukan sekadar kewajiban, melainkan wujud cinta yang akan mempererat hubungan.

Pendapat Empat Mazhab Besar

Para ulama dari mazhab Hanafiyah, Malikiyah, Syafi'iyah, dan Hanabilah sepakat bahwa pada dasarnya pekerjaan rumah tangga bukanlah kewajiban mutlak seorang istri. Artinya, istri tidak bisa dipaksa untuk memasak, mencuci, atau membersihkan rumah. Jika ia melakukannya dengan ikhlas, maka itu menjadi amal kebaikan yang bernilai pahala.

Dalam kitab Badai' Ash-Shanai' karya ulama Mazhab Hanafiyah, Al-Imam Al-Kasani, dijelaskan bahwa jika suami membawa bahan makanan mentah, istri berhak menolak untuk memasaknya. Suamilah yang harus menyediakan makanan yang siap santap. Ini membuktikan bahwa Islam tidak membebani istri dengan urusan dapur.

Budaya vs Syariat

Di Indonesia, masih banyak yang menganggap bahwa urusan domestik adalah tugas istri. Padahal, pandangan itu lebih dipengaruhi oleh budaya dan kebiasaan masyarakat, bukan syariat Islam. Dalam Islam, tanggung jawab suami adalah memberi nafkah, sementara pekerjaan rumah sebaiknya dikerjakan bersama atas dasar musyawarah dan saling pengertian.

Dengan memahami hal ini, semoga tidak ada lagi pihak yang merasa paling benar. Rumah tangga yang harmonis dibangun di atas kerja sama, bukan beban sepihak. Jadi, sudah saatnya kita saling membantu, ya, Bunda!

Artikel ini membantu? Bagikan:
Sania Putri

Tentang Penulis

Sania Putri

Sania Putri

Lihat semua artikel

Dapatkan Panduan Parenting Terbaru

Terima pilihan artikel parenting, kehamilan, kesehatan keluarga, resep, dan cerita ibu langsung ke email Anda.

Berita Terkait

Lihat Semua

Pilihan Editor

Lihat Semua