CeritaIbu.com
Update Parenting
Keluarga

Atalia Praratya Kritik Keras Lagu Bupati Purwakarta: Sudah Sunda Tapi Tak Hormati Perempuan

Belakangan, lagu berjudul 'Lalaki Langit, Lalanang Bejat' yang diciptakan Bupati Purwakarta menuai kontroversi karena liriknya dinilai merendahkan martabat perempuan. Atalia Praratya, istri Ridwan Kamil, turut angkat bicara melalui Instagram pribadinya. Ia mengaku kecewa karena budaya Sunda yang sarat nilai penghormatan justru diwakili oleh narasi yang tak pantas.

Anisa Wahyuni
Anisa Wahyuni

Anisa Wahyuni

03 Juli 2026 13:03:00 3 menit baca 62 dibaca
Bagikan:
Atalia Praratya Kritik Keras Lagu Bupati Purwakarta: Sudah Sunda Tapi Tak Hormati Perempuan

Ringkasan Artikel

AI
  • Atalia Praratya mengkritik lagu Bupati Purwakarta yang dinilai merendahkan perempuan, menekankan bahwa budaya Sunda seharusnya mengajarkan penghormatan.

*Ringkasan dibuat dengan bantuan AI

Sebagai perempuan Sunda, Atalia merasa terusik dengan lagu yang viral tersebut. Dalam unggahannya, ia menulis bahwa dirinya sudah berusaha sepositif mungkin memaknai lirik lagu itu, namun tetap tak menemukan sedikit pun ruang untuk menganggapnya sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan.

“Jujur, saya tidak habis pikir. Sepositif apa pun saya mencoba memaknai lagu ini, saya tidak menemukan sedikit pun ruang untuk menganggap lirik ini sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan,” tulis Atalia di akun Instagram @ataliapr, Kamis (2/7/2026).

Atalia mempertanyakan pilihan kata dalam lagu tersebut. Menurutnya, bahasa Sunda begitu kaya dengan kosakata indah dan penuh makna luhur. Lalu, mengapa justru narasi yang merendahkan perempuan yang dipilih?

“Dari begitu banyak pilihan kata dalam Bahasa Sunda yang indah… Dari begitu banyak pesan yang bisa mengangkat nilai kehidupan… Mengapa justru narasi seperti ini yang dipilih?” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa budaya Sunda sejak dulu menjunjung tinggi nilai saling menghargai, seperti silih asih, silih asah, silih asuh, dan silih wawangi. Nilai-nilai itulah yang seharusnya tercermin dalam setiap karya yang mengatasnamakan budaya Sunda, termasuk dalam memandang martabat seorang perempuan.

“Dan saya percaya, Budaya Sunda tidak pernah mengajarkan kita untuk menertawakan beban biologis seorang perempuan,” tegas Atalia.

Ia juga menyoroti ironi di tengah perjuangan kesetaraan gender yang semakin gencar. Bagaimana mungkin narasi yang sangat patriarkal justru lahir dari seorang kepala daerah?

“Hari ini kita mati-matian melawan budaya patriarki yang merendahkan perempuan. Namun, mengapa justru narasi yang sangat patriarkal lahir dari karya seorang kepala daerah? Bagaimana menurut kalian?” ujarnya.

Postingan Atalia langsung mendapat dukungan luas. Banyak netizen yang mengaku miris melihat fenomena ini.

“Miris lihat seperti ini. Kapan mau majunya bangsa Indonesia. Padahal kita banyak pahlawan perempuan yang membuktikan kalau jasa perempuan tidak kalah dengan laki-laki,” tulis akun @theresiadewianggr****.

“Yang kaya begini dijadiin pemimpin, Bapak lahir dari rahim perempuan loh, kok bisa-bisanya bikin lirik yang merendahkan perempuan,” tulis akun @anjaryp****.

Lagu 'Lalaki Langit, Lalanang Bejat' memang menuai kritik karena liriknya yang dianggap melecehkan. Beberapa penggalan lirik menyebutkan anak perempuan usia SMP yang sudah keguguran tujuh kali, serta sindiran tentang membeli bra dan terlambat datang bulan. Berikut lirik lengkapnya:

  • Nuhun Gusti / Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki / Cacak mun jadi awewe / ES-Em-Pe kelas tilu / Tos Karuron tujuh kali
  • Nuhun Gusti / Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki / Teu kudu meuli kutang / Nu busana leuwih gede batan susu
  • Nuhun Gusti / Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki / Teu kudu ngaprak-ngaprak apotek / Alatan telat bulan
  • Nuhun Gusti / Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki / Teu kudu ngalukis halis jeung bulu mata / Sakalina ngiceup hese beunta
  • Lalaki langit / Lalanang bejad

Bagi para ibu yang peduli pada pendidikan anak dan kesetaraan gender, kontroversi ini menjadi pengingat bahwa kita harus kritis terhadap konten yang dikonsumsi anak-anak. Jangan ragu untuk mendiskusikan nilai-nilai positif di rumah, termasuk bagaimana menghormati perempuan.

Artikel ini membantu? Bagikan:
Anisa Wahyuni

Tentang Penulis

Anisa Wahyuni

Anisa Wahyuni

Lihat semua artikel

Dapatkan Panduan Parenting Terbaru

Terima pilihan artikel parenting, kehamilan, kesehatan keluarga, resep, dan cerita ibu langsung ke email Anda.

Berita Terkait

Lihat Semua

Pilihan Editor

Lihat Semua