Nadin Amizah kembali mencuri perhatian dengan album barunya yang bertajuk Laika, Yang Ditinggalkan. Dirilis pada akhir Agustus, album ini mengangkat kisah seekor anjing bernama Laika, makhluk hidup pertama yang mengorbit Bumi melalui misi Sputnik 2 pada 1957. Laika, yang awalnya adalah anjing liar dari jalanan Moskow, dipilih karena ukurannya kecil, dianggap tangguh, dan berperangai tenang. Nadin menggunakan nama Laika sebagai metafora untuk sosok yang mendambakan kasih sayang namun tak kunjung datang.
Dalam album ini, ada beberapa lagu yang viral dan menjadi latar belakang banyak konten di media sosial, seperti Reservasi Untuk Dua, Tamu Berwajah Itu, dan Amarah. Ketiganya memiliki benang merah: menggambarkan fenomena fatherless atau ketidakhadiran ayah dalam pengasuhan. Nadin sendiri menyatakan bahwa album ini mencerminkan realitas banyak anak di Indonesia yang merasa ditelantarkan oleh ayah mereka. Ia juga mempertanyakan mengapa selalu anak yang dianggap durhaka, padahal bisa jadi ayah juga turut andil dalam luka tersebut.
Lagu Reservasi Untuk Dua menjadi salah satu yang paling menyentuh. Liriknya yang berbunyi, “Dan jika neraka tempatku durhaka, kuyakin kau juga ku temu di sana” menggambarkan perasaan kompleks seorang anak yang marah namun tetap merasa terikat.
Album ini kemudian memicu diskusi luas tentang isu fatherless di Indonesia. Banyak warganet mencurahkan pengalaman pribadi mereka. Kami mewawancarai tiga pendengar setia Nadin yang memiliki pengalaman serupa. Berikut kisah Nabila, Flo, dan Lita.
Nabila: Amarah yang Menjaga Kenangan
Sejak kecil, Nabila menyaksikan orang tuanya sering bertengkar, bahkan untuk hal sepele. Ia mengira pertengkaran adalah hal normal dalam pernikahan, sampai ia sadar bahwa keluarga teman-temannya tidak demikian. Puncaknya, pada 2025, ayahnya memilih tinggal di Bogor sementara Nabila dan ibunya kembali ke Jakarta. Mereka tidak bercerai, tetapi berpisah rumah. Nabila awalnya marah, merasa ayahnya lepas tanggung jawab. Kini ia menyadari bahwa hidup ayahnya lebih tenang tanpa ibunya, begitu pula sebaliknya.
Pengalaman ini memengaruhi pandangannya tentang pernikahan. Ia belum memiliki standar suami yang baik karena tidak pernah melihat contohnya. Hal ini sejalan dengan temuan Apranda dan Ninawati (2025) yang mengaitkan fatherless dengan ketakutan akan keintiman. Ketika mendengar album Laika, Nabila merasa divalidasi. Lagu Amarah menjadi favoritnya, terutama lirik “Jangan ambil amarahku, hanya ini yang membuatmu masih hidup di benakku”. Baginya, marah adalah cara agar ayahnya tetap ada dalam ingatannya.
Flo: Luka yang Tersembunyi di Balik Senyum
Dari luar, keluarga Flo tampak harmonis. Namun, di balik itu, ayahnya tidak pernah hadir secara emosional. Flo mengalami kekerasan fisik dan verbal, seperti dipukul dengan gesper, dikunci di kamar mandi gelap, dan mainannya dirusak. Ayahnya juga sering mengomentari tubuhnya sehingga ia tumbuh dengan rasa tidak percaya diri. Ibunya, yang juga bekerja, tetap menanggung beban rumah tangga sendirian. Ayahnya bahkan pernah berkata, untuk apa punya istri jika tidak menyiapkan makan dan membereskan rumah.
Flo menyadari bahwa sikap ayahnya dipengaruhi nilai patriarki yang mengakar. Hal ini sesuai dengan argumen Zhao (2026) tentang ketimpangan peran domestik dalam keluarga. Lagu-lagu Nadin, terutama Tamu Berwajah Itu, membantunya memahami bahwa lukanya nyata dan ia berhak untuk marah.
Lita: Merangkai Kepingan yang Hilang
Lita tumbuh tanpa sosok ayah sejak kecil. Ibunya menjadi tulang punggung keluarga. Lita sering merasa berbeda dari teman-temannya yang memiliki ayah. Ia merindukan sosok yang bisa menjadi panutan, namun tidak pernah ada. Ketika mendengar album Laika, Lita merasa terhubung dengan lagu Reservasi Untuk Dua. Liriknya mengingatkannya pada perasaan campur aduk antara rindu dan kecewa. Kini, Lita belajar menerima bahwa tidak semua pertanyaan tentang ayahnya akan terjawab, tetapi ia bisa memilih untuk tidak terjebak dalam luka.
Album Laika, Yang Ditinggalkan bukan sekadar kumpulan lagu, melainkan cermin bagi banyak orang yang pernah merasakan absennya figur ayah. Nadin Amizah berhasil mengartikulasikan perasaan yang sering kali sulit diungkapkan. Bagi para pendengarnya, album ini menjadi teman dalam merenungi luka dan menemukan kekuatan untuk melangkah.