Hari Ozon Sedunia jadi momen tepat untuk kembali menyadari pentingnya menjaga lapisan pelindung bumi. Bukan hanya tugas para ilmuwan, tapi juga tanggung jawab kita bersama, termasuk para ibu di rumah. Universitas Negeri Malang (UM) baru-baru ini menggelar aksi penanaman pohon di lingkungan kampus. Kegiatan ini melibatkan mahasiswa, dosen, dan relawan Green Campus. Tujuannya sederhana: menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sekaligus menciptakan budaya kampus yang sehat dan berkelanjutan.
Wakil Rektor III UM, Prof. Dr. Markus Diantoro, M.Si., menuturkan bahwa peringatan Hari Ozon Sedunia bukan sekadar seremonial. Ia mengajak seluruh warga kampus untuk melakukan aksi nyata, mulai dari menanam pohon hingga mengurangi penggunaan bahan kimia berbahaya. Menurutnya, upaya melindungi ozon bisa dilakukan dengan dua cara: gerakan penanaman dan pengurangan aktivitas manusia yang merusak lingkungan.
Pohon-pohon Pilihan yang Kaya Manfaat
Dalam kegiatan tersebut, beberapa jenis tanaman dipilih dengan cermat. Ada pohon bodhi dan beringin yang dikenal sebagai penghasil oksigen melimpah. Ada pula trembesi yang mampu menyerap karbon dioksida dalam jumlah besar. Tak ketinggalan sansevieria, tanaman hias yang efektif menyaring udara di dalam ruangan. Ketua UM Green Campus, Prof. Dr. Sumarmi, M.Pd., menjelaskan bahwa pemilihan ini bukan tanpa alasan. "Mahasiswa UM semakin banyak. Jangan sampai kita didonasi oksigen sama orang lain. Jadi kita harus menyediakan oksigen di area kita," ujarnya.
Semangat yang sama bisa kita terapkan di rumah. Ibu-ibu bisa mulai menanam tanaman hias atau pohon kecil di pekarangan. Selain mempercantik rumah, tanaman juga membantu menyegarkan udara dan mengurangi polusi dalam ruangan. Bayangkan anak-anak bermain di halaman yang asri, udara bersih, dan suasana pun jadi lebih sehat.
Membangun Budaya Hijau dari Rumah
Prof. Markus menekankan bahwa capaian UM dalam UI GreenMetric bukanlah tujuan akhir. Yang lebih penting adalah bagaimana gerakan ini menjadi budaya sehari-hari. "Memang kita bukan peringkatnya yang kita capai, kita berkeinginan ini menjadi sebuah budaya gerakan dari seluruh mahasiswa, civitas akademika. Tapi ini yang lebih mahal adalah membudayakan gerakan kampus sehat," jelasnya.
Prinsip ini juga berlaku di keluarga. Membudayakan gaya hidup ramah lingkungan tidak perlu menunggu momen khusus. Kita bisa mulai dari hal sederhana seperti memilah sampah, menghemat listrik, mengurangi plastik sekali pakai, dan mengajak anak-anak menanam bunga. Kebiasaan kecil yang konsisten akan berdampak besar bagi lingkungan dan kesehatan keluarga.
Langkah Kecil untuk Bumi yang Lebih Baik
Menjaga lapisan ozon dan mengurangi perubahan iklim adalah tanggung jawab bersama. Aksi yang dilakukan UM sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim. Sebagai ibu, kita pun bisa berkontribusi dengan cara kita sendiri. Mulai dari mengurangi penggunaan AC secara berlebihan, mematikan alat elektronik saat tidak dipakai, hingga mendaur ulang barang bekas.
Yang terpenting, libatkan anak-anak dalam setiap aksi. Ajak mereka menyiram tanaman, menjelaskan mengapa kita perlu memilah sampah, atau sekadar bercerita tentang pentingnya pohon bagi kehidupan. Dengan begitu, kesadaran lingkungan akan tumbuh menjadi karakter mereka sejak dini.
Pada akhirnya, merawat bumi adalah bentuk cinta kita kepada keluarga. Udara bersih, lingkungan hijau, dan iklim yang stabil akan mewariskan kehidupan yang lebih baik untuk generasi mendatang. Jadi, sudah siap memulai langkah kecil hari ini?