Kehamilan ektopik terjadi ketika sel telur yang telah dibuahi menempel dan tumbuh di luar rahim, paling sering di tuba falopi. Kondisi ini tidak bisa berkembang normal dan berisiko pecah, menyebabkan perdarahan internal yang berbahaya. Meski bisa ditangani jika terdeteksi dini, keterlambatan diagnosis sering terjadi.
Mengapa Kematian Akibat Kehamilan Ektopik Meningkat?
Data dari analisis ProPublica terhadap catatan kematian federal di Amerika Serikat menunjukkan hampir 200 perempuan meninggal akibat kehamilan ektopik pada periode 2020–2025, naik hampir dua kali lipat dibanding enam tahun sebelumnya. Para ahli belum bisa memastikan penyebab pasti lonjakan ini, namun beberapa faktor diduga berperan.
Salah satunya adalah keterlambatan diagnosis. Kehamilan ektopik sering muncul sebelum ibu melakukan pemeriksaan kehamilan pertama, sehingga banyak yang baru datang ke rumah sakit saat sudah mengalami gejala berat. Selain itu, USG awal belum tentu bisa mendeteksi kantung kehamilan di luar rahim, sehingga dokter perlu pemeriksaan lanjutan.
Gangguan layanan kesehatan selama pandemi COVID-19 juga diduga ikut memperlambat diagnosis dan penanganan. Namun, angka kematian tetap tinggi setelah pandemi, sehingga penyebabnya masih menjadi tanda tanya.
Faktor Risiko yang Perlu Diwaspadai
Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), beberapa kondisi dapat meningkatkan risiko kehamilan ektopik, antara lain:
- Pernah mengalami kehamilan ektopik sebelumnya.
- Riwayat operasi pada tuba falopi atau panggul.
- Infeksi menular seksual seperti klamidia dan gonore.
- Penyakit radang panggul (PID).
- Endometriosis.
- Kebiasaan merokok.
- Usia di atas 35 tahun.
- Riwayat infertilitas.
Infeksi menular seksual dapat menyebabkan peradangan dan jaringan parut pada tuba falopi, sehingga menghambat perjalanan sel telur ke rahim.
Dampak Larangan Aborsi di Beberapa Negara Bagian AS
Analisis ProPublica juga menemukan perbedaan angka kematian antara negara bagian yang menerapkan larangan aborsi ketat dan yang tidak. Pada periode 2023–2025, angka kematian akibat kehamilan ektopik sekitar 13,1 per satu juta kelahiran hidup di negara bagian dengan larangan aborsi usia enam minggu atau lebih awal, sementara di negara bagian tanpa larangan sekitar 7,1 per satu juta kelahiran hidup. Meski demikian, data ini bersifat observasional dan tidak membuktikan hubungan sebab-akibat langsung.
Gejala Kehamilan Ektopik yang Harus Diwaspadai
Kehamilan ektopik dapat menimbulkan gejala seperti:
- Nyeri perut atau panggul, terutama pada satu sisi.
- Perdarahan vagina yang tidak seperti menstruasi biasa.
- Nyeri bahu.
- Pusing atau lemas berlebihan.
- Pingsan.
- Nyeri perut hebat yang muncul tiba-tiba.
Jika nyeri semakin parah, pingsan, atau gejala memburuk dengan cepat, segera cari pertolongan medis. Ini bisa menjadi tanda tuba falopi pecah dan perdarahan internal.
Penanganan Kehamilan Ektopik
Kehamilan ektopik bisa diobati, tergantung pada lokasi, ukuran, kondisi ibu, kadar hormon kehamilan, dan apakah tuba falopi sudah pecah. Jika terdeteksi dini, dokter dapat memberikan methotrexate untuk menghentikan pertumbuhan jaringan kehamilan. Namun, jika sudah pecah atau kondisi darurat, tindakan operasi mungkin diperlukan.
Semakin cepat kondisi ini dikenali, semakin besar peluang untuk ditangani sebelum terjadi komplikasi serius.
Kapan Harus ke Dokter?
Bunda yang mendapat hasil tes kehamilan positif dan mengalami nyeri perut atau panggul, terutama pada satu sisi, disertai perdarahan, pusing, nyeri bahu, atau pingsan, sebaiknya segera periksa ke dokter. Jangan menunggu hingga nyeri menjadi sangat berat. Kehamilan ektopik dapat mengancam nyawa jika tuba falopi pecah.