Setiap kali Agustus tiba, semangat kemerdekaan memang terasa di mana-mana. Di Jawa Timur, salah satu cara warga merayakannya adalah dengan menggelar karnaval dan pesta sound horeg. Pengeras suara raksasa ini memang berhasil menciptakan suasana yang super ramai dan meriah. Namun, di balik euforia itu, ada saja cerita yang bikin kita mengernyitkan dahi.
Beberapa waktu lalu, kita dikejutkan dengan insiden di Jember saat karnaval sound horeg. Sebuah pos kamling roboh tertabrak kendaraan pengangkut sound, dan yang lebih memprihatinkan, seorang lansia meninggal dunia setelah tertimpa reruntuhan bangunan. Memang, faktor bangunan tua ikut berperan, tapi getaran dari sound system yang keras diduga menjadi pemicu keretakan sebelumnya.
Persoalan sound horeg ternyata tidak melulu soal suara bising. Banyak juga warga yang mengeluhkan biaya iuran yang membengkak. Ada laporan yang menyebutkan, iuran bisa mencapai ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Bagi sebagian orang, nominal sebesar itu cukup memberatkan, apalagi harus dipangkas dari kebutuhan dapur sehari-hari.
Belum lagi, isu sampah berserakan setelah acara, potensi keributan, hingga konsumsi minuman keras yang kerap menyertai. Tapi, kita juga harus bijak, nggak semua kegiatan sound horeg berujung pada hal-hal negatif, kok. Ada banyak juga kok acara sound horeg yang berjalan tertib dan menyenangkan.
Jadi, sebenarnya apa sih dampak nyata sound horeg bagi warga? Apakah hanya soal kebisingan yang mengganggu telinga, atau ada efek lain yang lebih dalam? Mari kita simak bersama.
Sound Horeg: Antara Populer dan Kontroversial
Fenomena sound horeg memang nggak bisa dipandang sebelah mata. Popularitasnya di Jawa Timur sangat tinggi. Sebuah survei yang dilakukan oleh Tirto bersama Jakpat pada tahun 2025 terhadap 1.250 responden menunjukkan bahwa hampir separuh dari mereka (49,92 persen) pernah mengikuti langsung acara sound horeg atau cek sound, dan 46,08 persen lainnya sudah familiar meski belum pernah hadir. Hanya 4 persen yang benar-benar tidak tahu.
Artinya, sound horeg sudah menjadi bagian dari denyut nadi masyarakat Jawa Timur. Sayangnya, kepopuleran ini berbanding lurus dengan kekhawatiran. Dalam survei yang sama, 81,5 persen responden mengakui bahwa kegiatan sound horeg bisa mengganggu lingkungan sekitar. Ini menunjukkan bahwa ada dua sisi mata uang yang tak terpisahkan: di satu sisi digemari, di sisi lain dianggap meresahkan.
Suara Keras, Dampak yang Lebih Luas
Ketika ditanya apa alasan sound horeg dianggap mengganggu, jawaban responden sangat beragam dan menarik. Ternyata, keluhan bukan hanya soal telinga berdenging. Sebanyak 73,82 persen responden merasa sound horeg mengganggu kenyamanan orang sakit dan anak-anak. Ini penting, karena mereka yang sedang tidak sehat atau balita tentu sangat rentan terhadap kebisingan ekstrem.
Selain itu, 72,19 persen khawatir sound horeg dapat merusak bagian rumah, seperti kaca jendela atau genteng. Getaran bass yang kuat memang bisa membuat barang-barang di rumah bergetar dan berisiko pecah. Lalu, 67,59 persen responden juga cemas akan risiko kesehatan pendengaran. Polusi suara (49,90 persen) dan sampah berserakan (46,83 persen) juga menjadi keluhan yang tak kalah banyak.
Data ini menunjukkan bahwa dampak sound horeg itu kompleks dan menyentuh berbagai aspek kehidupan, mulai dari kenyamanan, keamanan bangunan, kesehatan, hingga kebersihan lingkungan.
Seberapa Keras Sebenarnya Sound Horeg?
Pertanyaan ini sulit dijawab dengan pasti karena tingkat kebisingan sound horeg sangat bervariasi. Tergantung pada jenis perangkat, volume yang diputar, posisi speaker, jarak pendengar, durasi acara, dan kondisi lingkungan sekitar. Hasil pengukuran dari satu acara belum tentu mewakili acara lainnya.
Dalam kajian ilmiah, pengukuran Sound Pressure Level (SPL) pada acara outdoor dipengaruhi oleh banyak variabel. Penelitian akademis tentang Noise-Induced Hearing Loss (NIHL) biasanya menggunakan sound-level meter standar untuk akurasi tinggi. Namun, aplikasi pengukur suara di smartphone seperti Decibel X bisa menjadi alat screening awal. Beberapa pengukuran lapangan menunjukkan bahwa sound horeg dapat menghasilkan suara di atas 100 dB, yang mana sudah melebihi ambang batas aman untuk pendengaran manusia.
WHO sendiri mengingatkan bahwa paparan suara keras yang berlebihan dapat membahayakan kesehatan. Risikonya semakin besar jika suara semakin keras dan durasi paparan semakin lama. Jadi, semakin dekat kita dengan sumber suara dan semakin lama kita berada di area bising, semakin besar pula risiko gangguan pendengaran.
Lebih dari Sekadar Telinga Berdenging
Dampak sound horeg tidak berhenti pada gangguan pendengaran. WHO mengkategorikan musik yang diperkuat sebagai salah satu sumber kebisingan lingkungan. Paparan kebisingan berlebihan dapat menyebabkan gangguan tidur, stres, gangguan kognitif, dan bahkan tinnitus (telinga berdenging terus-menerus).
Bayangkan jika Anda tinggal di dekat lokasi karnaval dan harus mendengar suara bising selama berjam-jam setiap hari selama perayaan. Tentu saja hal ini akan mengganggu istirahat dan aktivitas sehari-hari. Anak-anak yang sedang belajar atau orang dewasa yang bekerja dari rumah juga akan sangat terganggu konsentrasinya.
Di sinilah pentingnya keseimbangan. Sound horeg bisa menjadi hiburan yang menyenangkan jika dikelola dengan baik. Misalnya, dengan mengatur volume yang wajar, membatasi durasi, dan memastikan area acara tidak mengganggu pemukiman warga secara berlebihan. Dengan begitu, semangat kemerdekaan tetap terasa, tanpa harus mengorbankan kenyamanan dan kesehatan bersama.