Bunda, pernahkah merasa bahwa gaji suami saja sepertinya tidak cukup untuk memenuhi semua kebutuhan keluarga? Jika iya, Bunda tidak sendirian. Banyak keluarga di Indonesia yang kini merasakan hal yang sama. Para pakar ekonomi pun mengakui bahwa kondisi ini semakin umum terjadi.

Biaya Hidup yang Terus Merangkak Naik

Salah satu penyebab utama adalah biaya hidup yang semakin tinggi. Harga kebutuhan pokok, tempat tinggal, pendidikan, dan kesehatan terus meningkat setiap tahunnya. Kenaikan ini membuat pendapatan satu orang cepat habis untuk memenuhi kebutuhan dasar saja.

Menurut analis ekonomi, kenaikan biaya ini membuat standar hidup kelas menengah semakin sulit dijangkau. Banyak keluarga terpaksa mencari tambahan penghasilan agar bisa mempertahankan gaya hidup yang sama.

Harga Rumah dan Sewa yang Semakin Tidak Bersahabat

Tempat tinggal menjadi salah satu pengeluaran terbesar bagi keluarga. Keterbatasan pasokan hunian di berbagai kota membuat harga rumah dan sewa melonjak tajam. Bagi keluarga dengan satu pencari nafkah, cicilan rumah atau biaya sewa bisa mengambil porsi sangat besar dari pendapatan bulanan.

Akibatnya, sisa uang untuk kebutuhan lain seperti makanan, transportasi, dan tabungan menjadi sangat terbatas. Padahal, kebutuhan rumah tangga tidak pernah berkurang.

Biaya Pendidikan dan Kesehatan yang Membebani

Biaya pendidikan dan kesehatan juga menjadi beban tersendiri. Premi asuransi kesehatan keluarga meningkat lebih dari 25 persen sejak 2020, jauh lebih tinggi dari inflasi. Sementara itu, biaya penitipan anak dan uang kuliah juga naik lebih dari 5 persen setiap tahunnya.

Jika semua biaya ini harus ditanggung dari satu gaji, keluarga akan menghadapi tekanan finansial yang besar, terutama jika memiliki lebih dari satu anak. Bunda dan suami harus berpikir keras untuk mengatur keuangan agar semua kebutuhan terpenuhi.

Ketidakpastian di Dunia Kerja

Dunia kerja juga berubah. Sekarang, tidak sedikit pekerja yang beralih ke gig economy atau pekerjaan lepas. Meskipun fleksibel, pendapatan dari pekerjaan ini tidak selalu stabil dan sering kali tidak disertai tunjangan seperti jaminan kesehatan atau pensiun.

Bahkan pekerja tetap pun tidak lagi merasa aman secara finansial seperti generasi sebelumnya. Jam kerja yang tidak menentu, minimnya tunjangan, dan berkurangnya program pensiun membuat satu gaji saja terasa tidak cukup untuk menjamin masa depan keluarga.

Persiapan Pensiun yang Semakin Sulit

Persiapan pensiun juga menjadi tantangan. Dulu, banyak perusahaan menyediakan program pensiun untuk karyawannya. Sekarang, tanggung jawab ini lebih banyak dibebankan kepada pekerja itu sendiri.

Artinya, sebagian penghasilan harus dialokasikan untuk dana pensiun. Bagi keluarga dengan satu pencari nafkah, menyisihkan uang untuk masa tua setelah memenuhi kebutuhan sehari-hari adalah hal yang sangat sulit. Oleh karena itu, memiliki dua sumber penghasilan menjadi pilihan yang masuk akal untuk menjaga stabilitas keuangan keluarga.

Kesimpulan: Dua Penghasilan Bukan Lagi Pilihan, tapi Kebutuhan

Kondisi ekonomi saat ini membuat keluarga dengan satu penghasilan semakin sulit bertahan. Bukan karena gaya hidup yang berlebihan, tetapi karena biaya hidup yang terus meningkat dan ketidakpastian dunia kerja. Jika Bunda dan suami memutuskan untuk sama-sama bekerja, itu adalah langkah yang bijak untuk memastikan kebutuhan keluarga terpenuhi dan masa depan lebih terjamin.

Yang terpenting, jalani peran masing-masing dengan saling mendukung. Dengan kerjasama yang baik, keluarga bisa tetap harmonis meskipun harus menghadapi tantangan ekonomi.

Reporter: Anisa Wahyuni