Setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya, termasuk dalam hal makanan. Namun, tahukah Bunda bahwa cara kita merespons makanan dan tubuh anak bisa berdampak besar pada cara mereka memandang diri sendiri? Belakangan ini, istilah 'almond mom' atau 'almond parenting' ramai diperbincangkan di media sosial, dan penting bagi kita untuk memahaminya.
Apa Itu 'Almond Mom'?
Istilah 'almond mom' merujuk pada orang tua yang secara tidak sadar menerapkan kebiasaan makan yang tidak sehat kepada anak-anaknya. Mereka sering kali memaksakan diet ketat dengan harapan anak tetap kurus, tanpa mempertimbangkan kebutuhan nutrisi dan psikologis anak. Fenomena ini viral setelah video lawas yang menampilkan model Yolanda Hadid dan putrinya, Gigi Hadid, kembali beredar. Dalam video tersebut, Gigi yang merasa lemas karena hanya makan setengah almond justru disarankan ibunya untuk makan beberapa almond lagi dan mengunyahnya dengan benar.
Menurut dokter anak Karla Lester, MD, pola asuh ini bukan sekadar tren yang tidak berguna, tetapi juga berbahaya. Fenomena ini berakar pada budaya diet, ketakutan akan kegemukan, dan proyeksi keinginan orang tua untuk memiliki tubuh kurus. Padahal, yang lebih penting adalah kesehatan anak secara menyeluruh, bukan hanya soal berat badan.
Dampak Buruk 'Almond Mom' pada Kesehatan Mental Anak
Sering mengomentari berat badan dan makanan anak bisa membuat mereka merasa malu dan tidak percaya diri. Penelitian menunjukkan bahwa rasa malu terhadap tubuh dapat memicu gangguan makan, depresi, dan rendahnya harga diri. Anak-anak yang tumbuh dengan pola asuh seperti ini cenderung memiliki hubungan negatif dengan makanan. Mereka mungkin menjadi takut makan atau justru makan berlebihan sebagai pelarian.
Yang lebih memprihatinkan, banyak orang tua tidak menyadari bahwa mereka telah menerapkan gaya pengasuhan ini. Kebiasaan kecil seperti melabeli makanan sebagai 'baik' atau 'buruk' atau membandingkan tubuh anak dengan orang lain bisa menjadi awal dari masalah besar.
Cara Menanamkan Kebiasaan Makan Sehat tanpa Menjadi 'Almond Mom'
Kabar baiknya, Bunda bisa membangun kebiasaan makan sehat tanpa harus menjadi 'almond mom'. Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan:
- Hindari mempermalukan anak karena makanannya. Alih-alih mengatakan, "Makan wortelmu!" coba gunakan kalimat yang lebih positif, seperti "Wortel mengandung vitamin A yang bagus untuk matamu, lho." Jika anak ingin makan kue, jangan langsung melarang, tetapi jelaskan bahwa kue bisa dinikmati di waktu yang tepat, misalnya saat acara keluarga.
- Libatkan anak dalam persiapan makanan. Ajak si kecil untuk ikut mencuci sayuran, mengaduk adonan, atau menyusun menu. Anak yang terlibat dalam memasak biasanya lebih berani mencoba makanan baru dan tidak mudah pilih-pilih.
- Berikan contoh yang baik. Anak adalah peniru ulung. Jika Bunda dan Ayah terbiasa makan buah dan sayur, anak pun akan mengikutinya. Perlihatkan sikap moderasi, bahwa makanan sehat itu penting, tetapi sesekali menikmati camilan juga tidak masalah.
Ingat, membangun kebiasaan makan sehat bukan hanya tentang apa yang ada di piring, tetapi juga tentang bagaimana perasaan anak saat makan. Berikan kasih sayang dan dukungan, bukan kritik yang menyakitkan. Dengan begitu, anak akan tumbuh dengan citra tubuh yang positif dan hubungan yang baik dengan makanan seumur hidupnya.