CeritaIbu.com
Update Parenting
Gaya Hidup

Jejak Mikroplastik Tersembunyi di Balik Gaya Berpakaian Kekinian

Tanpa kita sadari, lemari pakaian penuh tren bisa menyimpan jejak mikroplastik yang mencemari lingkungan. Yuk, kenali bahan-bahan sintetis dan cara mencuci yang lebih bijak agar gaya tetap oke tanpa merusak bumi.

Fadila Utami
Fadila Utami

Fadila Utami

17 September 2026 11:05:00 4 menit baca 20 dibaca
Bagikan:
Jejak Mikroplastik Tersembunyi di Balik Gaya Berpakaian Kekinian

Ringkasan Artikel

AI
  • Gaya berpakaian kekinian menyimpan jejak mikroplastik dari bahan sintetis yang terlepas saat dicuci. Kenali faktanya dan cara mencuci bijak untuk mengurangi dampak lingkungan.

*Ringkasan dibuat dengan bantuan AI

Gaya berpakaian bagi generasi muda bukan sekadar penutup tubuh. Baju adalah cara berekspresi, membangun identitas, dan mengikuti arus media sosial. Tak heran jika lemari terus diisi koleksi baru sementara model lama belum sempat usang. Tren berganti begitu cepat, dan pakaian lama pun tersingkir ke sudut lemari.

Namun di balik tumpukan outfit kekinian, ada jejak tak kasat mata yang perlu kita sadari. Mari kita buka lemari dan periksa label bahan pada busana kesayangan. Mungkin sebagian besar terbuat dari serat sintetis seperti polyester, nilon, acrylic, atau polypropylene. United Nations Environment Programme (UNEP) mencatat sekitar 60 persen material pakaian dunia berasal dari plastik.

Ketika Pakaian Dicuci, Serat Plastik Lepas

Masalah muncul saat pencucian. Serat plastik berukuran mikro dapat terlepas dari kain sintetis. Ketika mesin cuci berputar, serat-serat itu terbawa air limbah dan berpotensi mencapai laut. UNEP memperkirakan tekstil menyumbang sekitar 9 persen mikroplastik di lautan.

Jumlah serat yang lepas tidak sama untuk setiap kain. Riset Yapping Cai dan kolega dari lembaga penelitian Swiss pada 2020 menguji 12 jenis tekstil polyester dan menemukan bahwa struktur kain serta karakteristik tekstil menentukan seberapa banyak serat yang terlepas. Penelitian lain yang terbit di Environmental Pollution (2024) menguji lima bahan sintetis: acrylic, polyamide, polyester, recycled polyester, dan polypropylene. Hasilnya, acrylic tenun melepaskan hingga 2.405 mikroserat, tertinggi di antara bahan lain. Menariknya, recycled polyester justru melepaskan lebih banyak mikroserat (1.193) dibandingkan polyester biasa (908). Jadi, bahan daur ulang tidak otomatis bebas dari masalah.

Cara pembuatan kain juga berpengaruh. Kain tenun cenderung melepaskan lebih banyak serat dibandingkan kain rajut, terutama jika kain lebih tebal dan berat.

Fakta dari Indonesia

Penelitian di dalam negeri juga mengungkap hal serupa. Pada 2022, Putri Nur Rizkia dari UPN Veteran meneliti limbah laundry di Surabaya dan menemukan serat polimer nilon, PET, dan polypropylene. Di Pontianak, Rizqa Khairunnisa dan tim dari Universitas Tanjungpura menganalisis sampel dari proses pencucian, pembilasan, dan pengeringan. Semua sampel mengandung mikroplastik berbentuk fiber, dengan tahap pencucian melepaskan paling banyak, rata-rata 2.239 partikel per liter. Deterjen, usia pakaian, sistem putaran mesin, dan volume air turut memengaruhi pelepasan serat.

Studi global dalam Journal of Hazardous Materials (2024) memperkirakan mesin cuci menyumbang 93,7 persen emisi microplastic fibers (MPF) dari aktivitas laundry rumah tangga. Aktivitas binatu di Asia diperkirakan menghasilkan sekitar 3,71 juta ton MPF, lebih tinggi dari Amerika Utara dan Eropa. Meski data ini berasal dari pemodelan, tetap menjadi peringatan penting.

Perlu diingat, tidak semua mikroserat adalah mikroplastik; bisa jadi serat kapas. Namun, studi-studi ini menegaskan bahwa mencuci pakaian berperan dalam pelepasan serat mikroplastik.

Fast Fashion dan Generasi Muda

Persoalan ini bertemu dengan budaya fast fashion. Siklus tren cepat, produksi massal, harga terjangkau, dan media sosial mempercepat pergantian gaya. Penelitian Young Dy Lika, Nelson Fianto, dan Ina Agustini Murwani dari Bina Nusantara University (Desember 2025) terhadap 307 responden Gen Z Indonesia usia 15–29 tahun menunjukkan bahwa mereka membeli produk fast fashion setidaknya tiga kali dalam enam bulan terakhir. Studi ini tidak mengukur pelepasan mikroplastik, tetapi mengonfirmasi bahwa sebagian Gen Z berada dalam ekosistem fast fashion yang menggunakan serat sintetis.

Intinya, bukan hanya seberapa banyak pakaian yang dibeli, tetapi juga bahan yang dipakai, lama pemakaian, frekuensi pencucian, cara mencuci, dan ke mana serat yang lepas berakhir.

Langkah Kecil untuk Gaya yang Lebih Bertanggung Jawab

Kita tetap bisa tampil stylish tanpa mengabaikan lingkungan. Berikut beberapa cara yang bisa dicoba:

  • Pilih pakaian dari bahan alami seperti katun, linen, atau wol yang lebih ramah lingkungan.
  • Cuci pakaian sintetis dengan air dingin dan siklus lembut untuk mengurangi gesekan.
  • Gunakan kantong khusus pencucian (laundry bag) untuk menangkap serat mikro.
  • Kurangi frekuensi mencuci pakaian yang belum terlalu kotor, cukup diangin-anginkan.
  • Dukung merek yang transparan soal bahan dan praktik produksi.
  • Belanja pakaian bekas atau ikut tren thrifting untuk memperpanjang usia pakai.
  • Pilih bahan daur ulang dengan bijak, tetap perhatikan potensi pelepasan serat.
  • Hindari membeli pakaian berlebihan hanya karena tren sesaat.
  • Edukasi diri dan teman tentang dampak mikroplastik dari tekstil.
  • Daur ulang pakaian lama menjadi produk baru atau sumbangkan jika masih layak.

Dengan kesadaran dan perubahan kecil, kita bisa tetap tampil percaya diri sekaligus menjaga bumi untuk generasi mendatang.

Artikel ini membantu? Bagikan:
Fadila Utami

Tentang Penulis

Fadila Utami

Fadila Utami

Lihat semua artikel

Dapatkan Panduan Parenting Terbaru

Terima pilihan artikel parenting, kehamilan, kesehatan keluarga, resep, dan cerita ibu langsung ke email Anda.

Berita Terkait

Lihat Semua

Pilihan Editor

Lihat Semua