CeritaIbu.com
Update Parenting
Kesehatan

Keracunan Makanan Ternyata Bisa Tinggalkan Masalah Pencernaan Jangka Panjang

Pernahkah Anda mengalami keracunan makanan, lalu sembuh, tapi perut tetap terasa tidak nyaman selama berbulan-bulan? Ternyata, ini bukan hal yang jarang terjadi. Sebuah kondisi yang disebut IBS pascainfeksi bisa menjadi 'jejak' yang tertinggal setelah infeksi pencernaan, dan perempuan lebih rentan mengalaminya.

Rini Azhari
Rini Azhari

Rini Azhari

14 September 2026 07:03:00 3 menit baca 14 dibaca
Bagikan:
Keracunan Makanan Ternyata Bisa Tinggalkan Masalah Pencernaan Jangka Panjang

Ringkasan Artikel

AI
  • Keracunan makanan dapat memicu IBS pascainfeksi dengan gejala berkepanjangan; kenali risiko dan penanganannya.

*Ringkasan dibuat dengan bantuan AI

Bagi sebagian orang, keracunan makanan bukan sekadar episode buruk yang cepat berlalu. Setelah infeksi akut mereda, keluhan seperti kram perut, diare, sembelit, atau kembung bisa terus muncul dan bertahan hingga berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Kondisi ini dikenal sebagai post-infection irritable bowel syndrome (IBS pascainfeksi).

Apa Itu IBS Pascainfeksi?

IBS pascainfeksi adalah gangguan pencernaan yang berkembang setelah infeksi saluran cerna akibat bakteri, virus, atau parasit. Meski infeksi awal sudah sembuh, usus tidak kembali berfungsi normal. Penderita terus merasakan nyeri perut berulang dan gejala gastrointestinal lainnya.

Dr. William D. Chey, pakar gastroenterologi dari Michigan Medicine, menggambarkan kondisi ini seperti "hangover" pada saluran pencernaan. Efek akut infeksi sudah hilang, tetapi gangguannya tetap bertahan.

Mengapa Ini Perlu Diwaspadai?

Belakangan ini, beberapa wabah penyakit bawaan makanan kembali muncul. Mulai dari parasit Cyclospora yang terkait selada iceberg, Salmonella pada jalapeño, hingga E. coli pada blueberry beku. Menurut Dr. Irene Sonu dari Stanford Medicine, lonjakan kasus penyakit bawaan makanan berpotensi meningkatkan jumlah penderita IBS pascainfeksi. Sekitar 10 persen orang yang mengalami gangguan gastrointestinal akan berkembang menjadi kondisi ini.

Gejala yang Mungkin Muncul

Gejala IBS pascainfeksi bisa bervariasi, antara lain:

  • Nyeri perut berulang
  • Kembung dan gas berlebih
  • Diare
  • Sembelit
  • Diare dan sembelit yang datang bergantian

Tidak ada tes khusus untuk memastikan diagnosis ini. Dokter biasanya akan menyingkirkan kemungkinan infeksi yang masih berlangsung atau kondisi lain yang bisa menjelaskan gejala. Untuk diare akut, dokter mungkin melakukan tes PCR tinja atau kultur tinja guna mendeteksi bakteri seperti Salmonella, Shigella, atau Campylobacter.

Mengapa Sebagian Orang Lebih Rentan?

Hingga kini, penyebab pasti mengapa sebagian orang pulih total sementara yang lain mengalami gejala berkepanjangan belum sepenuhnya dipahami. Beberapa teori mencoba menjelaskannya:

  • Sistem imun dan saraf yang tetap aktif: Setelah infeksi, sistem ini bisa tetap dalam kondisi "siaga" dan tidak kembali normal.
  • Perubahan mikrobioma usus: Infeksi dapat mengubah komposisi bakteri baik di usus atau membuat lapisan usus lebih permeabel.
  • Respons autoimun: Antibodi yang terbentuk setelah infeksi tertentu bisa keliru menyerang saraf yang mengendalikan gerakan usus.

Faktor risiko lainnya adalah durasi dan tingkat keparahan infeksi. Semakin parah dan lama infeksi berlangsung, semakin besar risikonya. Perempuan juga diketahui lebih berisiko dibanding laki-laki. Jenis infeksi pun berpengaruh: infeksi parasit (seperti Giardia) memiliki risiko tertinggi, diikuti bakteri (Campylobacter, Salmonella), lalu virus.

Langkah Penanganan

Penanganan IBS pascainfeksi disesuaikan dengan gejala yang dialami. Beberapa pendekatan yang umum dilakukan:

  • Obat antidiare, antibiotik tertentu, atau pengikat asam empedu untuk diare.
  • Pencahar untuk sembelit.
  • Suplemen serat larut untuk membantu mengatasi diare maupun sembelit.
  • Obat antispasmodik untuk meredakan kram perut.
  • Terapi kognitif perilaku atau hipnoterapi yang diarahkan pada usus untuk memperbaiki hubungan usus-otak.
  • Diet rendah FODMAP, yaitu membatasi sementara jenis karbohidrat tertentu yang difermentasi di usus.

Jika Anda mengalami gejala pencernaan yang menetap setelah keracunan makanan, sebaiknya konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Artikel ini membantu? Bagikan:
Rini Azhari

Tentang Penulis

Rini Azhari

Rini Azhari

Lihat semua artikel

Dapatkan Panduan Parenting Terbaru

Terima pilihan artikel parenting, kehamilan, kesehatan keluarga, resep, dan cerita ibu langsung ke email Anda.

Berita Terkait

Lihat Semua

Pilihan Editor

Lihat Semua