CeritaIbu.com
Update Parenting
Berita

Kadar Lemak Tubuh Ibu Hamil Berpengaruh pada Risiko ADHD Anak, Simak Faktanya

Menjaga kesehatan tubuh selama kehamilan bukan hanya soal penampilan, Bunda. Sebuah studi terbaru menemukan bahwa kadar lemak tubuh yang tinggi saat hamil bisa memengaruhi risiko ADHD pada anak. Yuk, simak penjelasan lengkapnya di sini!

Sania Putri
Sania Putri

Sania Putri

30 Agustus 2026 03:16:00 3 menit baca 27 dibaca
Bagikan:
Kadar Lemak Tubuh Ibu Hamil Berpengaruh pada Risiko ADHD Anak, Simak Faktanya

Ringkasan Artikel

AI
  • Kadar lemak tubuh tinggi saat hamil dapat meningkatkan risiko ADHD pada anak melalui peradangan; penelitian ini mengungkap mekanisme dan harapan intervensi dini.

*Ringkasan dibuat dengan bantuan AI

Selama masa kehamilan, kondisi tubuh ibu memang sangat berpengaruh pada tumbuh kembang janin. Bukan hanya soal asupan nutrisi, tapi juga komposisi tubuh secara keseluruhan. Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal Brain, Behavior, and Immunity mengungkapkan bahwa kadar lemak tubuh yang tinggi pada ibu hamil berhubungan dengan peningkatan risiko ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) pada anak.

Hubungan Lemak Tubuh dan Peradangan

Penelitian ini menunjukkan bahwa kadar lemak tubuh yang lebih tinggi selama kehamilan memicu peradangan sistemik dalam tubuh ibu. Peradangan ini kemudian berpotensi memengaruhi perkembangan otak janin, yang pada akhirnya berkontribusi pada munculnya gejala ADHD pada balita.

Jaringan lemak atau adiposa bukan sekadar penyimpan energi, Bunda. Jaringan ini aktif memproduksi molekul imun yang disebut sitokin. Saat kadar lemak meningkat, produksi sitokin juga ikut naik, menyebabkan peradangan tingkat rendah yang berkepanjangan. Kondisi ini bisa mengubah fungsi plasenta dan komposisi cairan amnion, yang berhubungan dengan perkembangan otak janin.

Hasil Studi Meta-Analisis

Studi meta-analisis sebelumnya juga menemukan bahwa anak-anak yang lahir dari ibu dengan kelebihan berat badan atau obesitas memiliki kemungkinan 30-60 persen lebih tinggi untuk didiagnosis ADHD, dibandingkan dengan anak dari ibu dengan berat badan normal. Temuan ini menegaskan pentingnya menjaga komposisi tubuh yang sehat selama kehamilan.

Detail Penelitian Terbaru

Dalam studi yang melibatkan 297 ibu hamil dan 302 anak ini, para peneliti mengukur persentase lemak tubuh ibu pada trimester kedua (minggu ke-24 hingga ke-26) menggunakan metode air displacement plethysmography. Metode ini sangat presisi untuk menentukan rasio lemak dan otot dalam tubuh.

Selain itu, peneliti juga mengambil sampel darah puasa untuk menganalisis sitokin dan menilai tingkat peradangan. Mereka mengontrol berbagai faktor lain seperti pendapatan keluarga, pendidikan ibu, gejala ADHD pada ibu, tekanan psikologis pasca melahirkan, dan gaya pengasuhan.

Temuan Utama: Lemak Tubuh Jadi Pemicu Utama

Hasilnya, kadar lemak tubuh ibu yang lebih tinggi pada trimester kedua berhubungan dengan peningkatan peradangan. Menariknya, kualitas diet dan stres psikologis tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan peradangan jika dibandingkan dengan lemak tubuh. Ini menunjukkan bahwa lemak tubuh adalah faktor dominan yang memicu peradangan selama kehamilan.

Profesor Elinor Sullivan dari Oregon Health & Science University, yang terlibat dalam penelitian ini, mengungkapkan rasa takjubnya. "Saya selalu terpesona oleh gagasan bahwa perkembangan otak dimulai sebelum seorang anak lahir," ujarnya. "Kita tahu lingkungan prenatal memainkan peran penting, tapi masih banyak yang belum kita pahami tentang pengaruh nutrisi ibu, kesehatan metabolisme, stres, dan kesehatan mental."

Harapan untuk Intervensi Dini

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang bisa dimodifikasi selama kehamilan untuk meningkatkan perkembangan anak. Jika peradangan bisa dikendalikan, mungkin kita bisa merancang intervensi yang mendorong perkembangan otak yang sehat sebelum gejala ADHD muncul.

Bunda, menjaga berat badan dan komposisi tubuh yang sehat selama hamil bukan hanya untuk penampilan, tapi juga untuk kesehatan janin. Konsultasikan dengan dokter tentang pola makan dan aktivitas fisik yang aman selama kehamilan, ya. Semoga informasi ini bermanfaat!

Artikel ini membantu? Bagikan:
Sania Putri

Tentang Penulis

Sania Putri

Sania Putri

Lihat semua artikel

Dapatkan Panduan Parenting Terbaru

Terima pilihan artikel parenting, kehamilan, kesehatan keluarga, resep, dan cerita ibu langsung ke email Anda.

Berita Terkait

Lihat Semua

Pilihan Editor

Lihat Semua