CeritaIbu.com
Update Parenting
Kesehatan

Saat Mencari Sehat di Tengah Kota yang Tak Sehat

Berlari di Jakarta kini seperti taruhan: semangat hidup sehat harus berhadapan dengan udara yang tak bersahabat dan suhu yang makin panas. Sebagai ibu yang juga pegiat lari, aku merasakan sendiri bagaimana detak jantung dan napasku bereaksi berbeda akhir-akhir ini.

Fadila Utami
Fadila Utami

Fadila Utami

07 Agustus 2026 13:05:00 3 menit baca 25 dibaca
Bagikan:
Saat Mencari Sehat di Tengah Kota yang Tak Sehat

Ringkasan Artikel

AI
  • Refleksi seorang ibu pegiat lari tentang tantangan berlari di tengah polusi dan suhu panas Jakarta, serta pentingnya dukungan lingkungan untuk hidup sehat.

*Ringkasan dibuat dengan bantuan AI

Beberapa pekan lalu, aku sempat terkejut melihat data di jam tanganku. Padahal aku hanya berlari santai di kawasan GBK, tapi detak jantungku menembus 179 bpm—jauh di atas rata-rataku yang biasanya 155 bpm. Keringatku pun mengucur deras, padahal kecepatanku biasa saja. Awalnya aku mengira ini karena kurang tidur atau mungkin efek kopi. Tapi ternyata, banyak pelari lain merasakan hal serupa.

Seorang teman, Bagus, yang biasa long run puluhan kilometer, mengaku detak jantungnya sudah di angka 150-an bahkan sebelum mulai berlari. "Belum start aja udah kayak habis sprint," katanya. Kami berdua sadar: ini bukan soal kondisi fisik kami, tapi lingkungan tempat kami berlari.

Kualitas Udara Jakarta: Alarm yang Tak Pernah Mati

Data dari IQAir menunjukkan kualitas udara Jakarta konsisten berada di level tidak sehat. Pada 13 Juni lalu, indeksnya mencapai 184 dengan konsentrasi PM2,5 yang 20 kali lebih tinggi dari batas aman WHO. Bahkan, Jakarta sempat masuk jajaran kota paling berpolusi di dunia. Kondisi ini diperparah dengan suhu udara yang meningkat akibat musim kemarau panjang.

Yuyun Harmono dari Greenpeace Indonesia mengingatkan bahwa pelari Jakarta seperti "mencari sehat di tengah lingkungan yang tidak sehat". Ia menyoroti heat stress sebagai risiko tambahan yang sering diabaikan. "Jangan sampai kita cari sehat malah berujung sakit," ujarnya.

Tren Lari Naik, Tapi Risiko Ikut Naik

Menariknya, minat masyarakat untuk berlari justru melonjak. Data dari Garmin menunjukkan aktivitas lari di Indonesia meningkat 46% dibanding tahun lalu. Sebagai pekerja multitasking, aku paham mengapa lari diminati: murah, fleksibel, dan memberi efek bahagia. Tapi di balik euforia ini, ada kekhawatiran yang jarang dibicarakan.

Dokter spesialis paru, dr. Agus Dwi Susanto, menjelaskan bahwa saat berolahraga, frekuensi napas meningkat sehingga polutan lebih mudah masuk ke paru-paru. Sementara dr. Antonius Andi Kurniawan, spesialis kedokteran olahraga, menambahkan bahwa suhu panas bisa memicu kenaikan detak jantung dan kelelahan lebih cepat.

Bukan Sekadar Soal Disiplin Diri

Sebagai ibu yang harus membagi waktu antara keluarga, karier, dan me-time, aku sempat merasa bersalah saat performa lariku menurun. Tapi kemudian aku sadar, ini bukan soal malas atau kurang disiplin. Ini soal lingkungan yang tidak mendukung.

Yuyun menegaskan bahwa tanggung jawab tidak bisa dibebankan hanya pada individu. Pemerintah harus mengambil peran lebih serius dalam mengendalikan polusi dari industri dan pembangkit listrik. Sehat itu hak, tapi kita butuh ruang yang aman untuk mewujudkannya.

Kini, aku lebih bijak memilih waktu dan tempat berlari. Aku cek kualitas udara dulu, pilih jam di mana polusi lebih rendah, dan tak memaksakan diri jika kondisi tidak memungkinkan. Sebagai ibu, aku ingin tetap sehat bukan hanya untuk diriku, tapi juga untuk anak-anakku. Dan semoga, suatu hari nanti, kita semua bisa berlari di kota yang benar-benar mendukung kita untuk hidup sehat.

Artikel ini membantu? Bagikan:
Fadila Utami

Tentang Penulis

Fadila Utami

Fadila Utami

Lihat semua artikel

Dapatkan Panduan Parenting Terbaru

Terima pilihan artikel parenting, kehamilan, kesehatan keluarga, resep, dan cerita ibu langsung ke email Anda.

Berita Terkait

Lihat Semua

Pilihan Editor

Lihat Semua