CeritaIbu.com
Update Parenting
Gaya Hidup

Air Berubah Warna, Warga Terlilit Duka di Balik Proyek Panas Bumi

Bayangkan air minum yang biasa kamu konsumsi tiba-tiba berubah warna jadi kehijauan, meninggalkan rasa pahit dan kering di tenggorokan. Inilah kenyataan yang dialami warga di sekitar proyek panas bumi di Ijen, Jawa Timur. Bukan cuma soal air, tapi juga kesehatan, penghidupan, dan harapan yang mulai memudar.

Maya Handayani
Maya Handayani

Maya Handayani

29 Juni 2026 13:11:00 2 menit baca 62 dibaca
Bagikan:
Air Berubah Warna, Warga Terlilit Duka di Balik Proyek Panas Bumi

Ringkasan Artikel

AI
  • Warga di lingkar proyek panas bumi Ijen, Mandailing Natal, dan Mataloko mengalami pencemaran air, gangguan kesehatan, dan penurunan hasil panen akibat aktivitas perusahaan energi.

*Ringkasan dibuat dengan bantuan AI

Kehidupan warga di lingkar proyek panas bumi memang tak semulus energi yang dihasilkan. Di Ijen, Dusun Watucapil, Margahayu, dan Kebunjeruk, sumber air bersih yang dulu jernih kini berubah kehijauan. Rasa pahit dan sensasi kering di tenggorokan jadi keluhan utama. Lebih dari 200 kepala keluarga terdampak. Mereka curiga, limbah cair dari pengeboran PLTP Ijen Blawan jadi biang keroknya.

Tak berselang lama, gangguan kesehatan mulai muncul. Anak-anak jadi yang paling rentan. Mual, diare, bahkan hingga opname. Salah satu perangkat desa, Donny, menceritakan bagaimana warga yakin penyakit ini terkait dengan air yang mereka minum. Namun, PT Medco Cahaya Geothermal membantah. Mereka menilai keluhan warga terlalu dibesar-besarkan.

Warga tetap mendesak pemulihan akses air bersih. Perusahaan sempat mencari sumber alternatif di Gunung Ranti, tapi terkendala jarak. Akhirnya, bantuan air bersih sementara disalurkan dan saluran limbah ditutup. Tapi apakah itu cukup?

Bukan Cuma Ijen, Mandailing Natal Juga Berduka

Cerita serupa terjadi di Mandailing Natal, Sumatera Utara. Petani seperti Sita (41) mengeluhkan debit air irigasi yang berkurang drastis sejak perusahaan beroperasi. Akibatnya, hasil panen menurun drastis, menggerus pendapatan keluarga. Meski belum ada penelitian resmi, dampaknya terasa nyata.

Miva Riani Siregar, Kepala Puskesmas Sibanggor Jae, mencatat peningkatan kasus ISPA di desa-desa sekitar proyek. Lebih mengkhawatirkan lagi, kebocoran gas H?S yang terjadi berulang kali. Pada 2021, lima warga meninggal. Tahun berikutnya, 58 warga muntah, pusing, hingga pingsan. Februari 2024 lalu, 123 warga keracunan. Kenangan pahit ini masih membekas.

Bau Sulfur dan Kenangan di Mataloko

Sementara di Mataloko, Nusa Tenggara Timur, proyek panas bumi sudah berhenti beroperasi lebih dari satu dekade. Tapi lumpur panas dan bau sulfur masih setia menemani. Inu dan Maria Baka tinggal sekitar satu kilometer dari pusat semburan. Setiap subuh, bau sulfur pekat menusuk hidung, memicu sesak napas dan gatal-gatal. Biaya obat Rp50 ribu per hari jadi beban tambahan.

Dari Ijen hingga Mataloko, satu benang merah terlihat: proyek energi bersih tak selalu ramah bagi warga sekitarnya. Air berubah, udara tercemar, kesehatan terganggu, dan penghidupan terancam. Saatnya kita bertanya, sejauh mana mimpi energi bersih harus dibayar dengan kenyataan pahit warga lingkar panas bumi?

Artikel ini membantu? Bagikan:
Maya Handayani

Tentang Penulis

Maya Handayani

Maya Handayani

Lihat semua artikel

Dapatkan Panduan Parenting Terbaru

Terima pilihan artikel parenting, kehamilan, kesehatan keluarga, resep, dan cerita ibu langsung ke email Anda.

Berita Terkait

Lihat Semua

Pilihan Editor

Lihat Semua