Serena Williams, ikon tenis dunia, baru-baru ini mengenang kembali momen menegangkan saat melahirkan putri pertamanya, Alexis Olympia, pada 2017 silam. Bukan persalinan biasa, ia harus melewati serangkaian komplikasi yang nyaris merenggut nyawanya. Kisahnya pun menuai empati dari banyak perempuan di seluruh dunia.

Dalam sebuah forum bergengsi, Serena berbagi bahwa pengalaman tersebut membuka matanya tentang realita kesehatan ibu yang sering terabaikan. Ia menyadari bahwa apa yang dialaminya bukanlah kasus langka, melainkan masalah yang dihadapi banyak perempuan dari berbagai latar belakang.

Komplikasi Usai Melahirkan yang Mengancam Jiwa

Serena menuturkan bahwa setelah melahirkan secara caesar darurat, ia mengalami batuk hebat yang menyebabkan lukanya terbuka kembali. Dokter kemudian menemukan hematoma besar, yaitu pembengkakan akibat gumpalan darah di perutnya. Kondisi itu memaksanya menjalani perawatan intensif selama enam hari karena emboli paru, yakni penyumbatan arteri di paru-paru oleh gumpalan darah.

“Saya tahu ada yang tidak beres dengan tubuh saya, dan saya bersyukur dokter mendengarkan keluhan saya. Mereka benar-benar menyelamatkan nyawa saya,” kenangnya.

Pengalaman itu membuat Serena semakin vokal memperjuangkan akses layanan kesehatan yang layak bagi perempuan, terutama mereka yang kurang terwakili. Ia pun bergabung dengan program Reckitt Catalyst sebagai entrepreneur in residence, mendukung solusi di bidang kesehatan, kebersihan, air, dan sanitasi.

Pelajaran Berharga untuk Semua Ibu

Kisah Serena mengingatkan kita bahwa kehamilan dan persalinan bisa saja berjalan tidak sesuai rencana. Namun, mendengarkan tubuh sendiri dan berani bersuara ketika ada yang tidak beres adalah kunci. Ia juga menekankan pentingnya akses ke bidan, fasilitas kesehatan yang memadai, ASI, kontak kulit-ke-kulit, air bersih, obat-obatan dasar, dan gizi yang baik.

“Kita tahu ada solusi sederhana, tapi kita belum melakukan bagian kita. Mari bersama-sama menjadi perubahan itu,” ajaknya.

Bagi para ibu di Indonesia, kisah ini menjadi pengingat untuk tidak mengabaikan tanda bahaya saat hamil maupun setelah melahirkan. Selalu komunikasikan dengan tenaga kesehatan dan pastikan Anda mendapatkan dukungan yang cukup.

Reporter: Sania Putri